NU Lumajang Kaji Film Dokumenter Soal Visum 7 Jenderal

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Anggota PKI sedang menyiksa dan menawan Mayjen S Parman, Mayjen Suprapto, Brigjen Sutoyo dan Lettu Pierre Tendean di serambi rumah di dalam Monumen Lubang Buaya Jalan Raya Pondok Gede, Jakarta Timur, 4 Juli 2012. TEMPO/Subekti

    Anggota PKI sedang menyiksa dan menawan Mayjen S Parman, Mayjen Suprapto, Brigjen Sutoyo dan Lettu Pierre Tendean di serambi rumah di dalam Monumen Lubang Buaya Jalan Raya Pondok Gede, Jakarta Timur, 4 Juli 2012. TEMPO/Subekti

    TEMPO.CO, Lumajang - Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, Samsul Huda, mengatakan sedang mengkaji soal pemutaran film dokumenter tentang hasil visum et repertum tujuh jenderal Pahlawan Revolusi. "Anak-anak muda sekarang sudah mulai kritis terhadap sejarah," kata Samsul, Senin, 16 Mei 2016.

    Samsul belum bisa menentukan apakah film tersebut bisa diputar atau tidak dalam forum NU. Semula dia mempertimbangkan memutar dokumenter itu saat peringatan hari ulang tahun NU dengan menggelar sejumlah acara. "Salah satunya adalah diskusi. Namun tema diskusinya belum kami tentukan," kata Samsul.

    Menurut dia, sepanjang materi film dokumenter tersebut tidak menyebarkan ajaran komunisme, pihaknya tidak akan mempermasalahkan. "Namun kalau isinya adalah ajakan dan menyebarkan ajaran komunisme, jelas tidak akan kami putar karena TAP MPRS soal larangan ajaran komunisme belum dicabut," katanya.

    Berdasarkan informasi yang dihimpun Tempo, film dokumenter itu berdurasi sekitar 30 menit dan disutradarai Dandhy D. Laksono, seorang jurnalis dan aktivis. Materi film berhubungan dengan ditemukannya hasil visum terhadap jenazah tujuh jenderal pembunuhan pada 30 September-1 Oktober 1965 di Lubang Buaya, Jakarta Timur, yang berbeda dengan pemberitaan di media-media pada zaman itu.

    Terdapat wawancara dengan Arief Budianto alias Lim Joey Thay, salah satu dokter visum jenderal korban G30S; Amelia A. Yani, putri almarhum Jenderal A. Yani; Dr Djaja Surya Atmaja, murid Lim Joey Tay; Jaleswari Pramodhawardani, seorang peneliti; dan bekas Kepala ANRI Djoko Utomo. Ada sebuah kutipan dari dr Lim Joey Thay terkait dengan hasil visum yang ditirukan muridnya, yakni Dr Djaja Surya Atmaja.

    Kutipan itu dr Lim di saat kegundahan tim dokter autopsi saat hendak melaporkan hasil autopsi terhadap jenazah jenderal korban G30S. Kutipan itu berbunyi, "Kita ada di sini karena kehendak Tuhan. Tuhan yang membuat kita ada di sini. Sebagai dokter, kita disumpah, kita hanya ngomong yang benar. Kita harus ngomong yang benar, tulis apa adanya, serahkan pada yang meminta. Kalau misalnya hasil kita tidak diterima, dan bahkan kita dipenjara sekali pun, ya kita terima. Itu mungkin risiko kita, tetapi jangan berbohong sebagai dokter."

    DAVID PRIYASIDHARTA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Calon Menteri yang Disodorkan Partai dan Ormas, Ada Nama Prabowo

    Presiden Joko Widodo menyatakan bahwa sebanyak 45 persen jejeran kursi calon menteri bakal diisi kader partai.