Ini Kata Kalla Soal Wali Kota Muslim Pertama di London

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ekspresi Wakil Presiden Jusuf Kalla saat mengikuti rapat terbatas di Kantor Presiden, Komplek Istana Kepresidenan, Jakarta, 25 April 2016. Dari lawatan ke empat negara Eropa, total investasi yang bisa diboyong ke Indonesia mencapai US$ 20,5 miliar atau setara Rp 266,5 triliun. TEMPO/Subekti.

    Ekspresi Wakil Presiden Jusuf Kalla saat mengikuti rapat terbatas di Kantor Presiden, Komplek Istana Kepresidenan, Jakarta, 25 April 2016. Dari lawatan ke empat negara Eropa, total investasi yang bisa diboyong ke Indonesia mencapai US$ 20,5 miliar atau setara Rp 266,5 triliun. TEMPO/Subekti.

    TEMPO.COJakarta - Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan Islamophobia banyak muncul di negara-negara Barat. Namun, di tengah paham yang mendiskreditkan Islam itu, seorang muslim terpilih menjadi Wali Kota London, yaitu Shadiq Khan. 

    "Kita cukup berbahagia beberapa hari lalu, umat Islam, Shadiq Khan, jadi Wali Kota London," kata Kalla, Senin, 9 Mei 2016, saat membuka International Summit of The Moderate Islamic Leader (ISOMIL) di Jakarta Convention Center, Jakarta. Terpilihnya Shadiq Khan, kata Kalla, punya makna dengan segala kampanye anti-Islam bahwa orang yang baik bisa menjadi pemimpin.

    Pertemuan ISOMIL akan berlangsung hingga 10 Mei mendatang. Pertemuan ini dihadiri sekitar 115 ulama dan perwakilan dari 35 negara Organisasi Kerja Sama Islam (OKI). Pengurus Besar Nahdlatul Ulama menjadi tuan rumah pertemuan yang mengangkat tema “Islam Nusantara: Inspirasi dan Solusi untuk Peradaban Dunia” itu. 

    Baca Juga: Sadiq Khan Jadi Wali Kota, Partai Lawan Akui Salah Taktik  

    Konferensi internasional ulama moderat ini akan membahas ancaman radikalisme dan terorisme di kalangan umat Islam. Konferensi juga dimaksudkan untuk menjaga gerakan dan kegiatan dakwah moderat (tawashutiyyah) di dunia.

    Rais Aam Pengurus PBNU KH Ma'ruf Amin mengatakan ada dua kelompok ekstremis yang kini berkembang di dunia Islam. Pertama adalah kelompok garis keras yang kaku dan sangat tekstualis tanpa menghiraukan maqashid as-syariah (tujuan syariah) dan menampilkan Islam dengan wajah yang garang. Kedua adalah kelompok yang menggampangkan semua aturan agama seakan tidak ada ketetapan dalam Islam dan bahwa semua ajaran agama bisa ditinjau ulang.

    Dakwah Islam moderat, kata Ma'ruf, merupakan dakwah keberagamaan yang menjaga kemudahan, bukan menyulitkan, serta memberi kabar gembira, bukan menakut-nakuti. "Dakwa Islam moderat dilakukan dengan lemah lembut, bukan dengan sikap kasar; saling mengenal, bukan menjauhkan; toleransi, bukan fanatisme golongan; isi, bukan bungkus, yang menerima pembaruan tidak kaku; jelas tidak kabur; moderat, bukan berlebihan (fundamentalis); dan menggampangkan (liberal)," katanya.

    Simak: Ternyata, Pangeran Harry Alami Paranoid Soal Perempuan

    Kalla mengatakan kehadiran kelompok-kelompok radikal telah muncul lama dalam sejarah Islam. Ini ditandai dengan kemunculan kaum Khawarij (kelompok sempalan pertama dalam sejarah Islam). Kemunculan kelompok radikal ini membawa petaka bagi umat Islam. Mereka membunuh umat Islam dan para pemimpinnya. "Kita tidak menginginkan sejarah masa lalu tetap menjadi kejadian pada dewasa ini," tuturnya.

    Kalla menyebutkan ada dua jenis radikalisme, yaitu radikalisme berpikir dan radikalisme bertindak. Radikalisme pikiran adalah hal yang biasa dalam setiap negara dan setiap bangsa. "Yang dikhawatirkan adalah radikalisme dalam bertindak yang berbentuk teror, perang, konflik. Itulah yang menjadi kekhawatiran dunia dan kita semua."

    AMIRULLAH


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Industri Permainan Digital E-Sport Makin Menggiurkan

    E-Sport mulai beberapa tahun kemarin sudah masuk dalam kategori olahraga yang dipertandingkan secara luas.