AJI Jakarta: Upah Layak Jurnalis Pemula Rp 7.540.000

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Poros Wartawan Jakarta berunjukrasa di Bundaran HI, Jakarta (9/2). Dalam aksinya PWJ menolak kekerasan, upah rendah, sistem kerja kontrak di perusahaan media sampai ancaman PHK massal. TEMPO/Subekti

    Poros Wartawan Jakarta berunjukrasa di Bundaran HI, Jakarta (9/2). Dalam aksinya PWJ menolak kekerasan, upah rendah, sistem kerja kontrak di perusahaan media sampai ancaman PHK massal. TEMPO/Subekti

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta Ahmad Nurhasim mengatakan sesuai hasil penelitian lembaganya menyebutkan besaran upah layak bagi jurnalis pemula pada 2016 sebesar Rp 7.540.000. Upah layak itu meningkat dibanding tahun lalu Rp 6.510.400. “Upah layak yang dimaksud di sini adalah take home pay, upah total yang diterima setiap bulan oleh jurnalis,” ujar Ketua AJI Jakarta Ahmad Nurhasim dalam pernyataannya, Ahad, 1 Mei 2016.

    Menurut Nurhasim, jurnalis pemula adalah reporter yang baru diangkat menjadi jurnalis tetap atau telah bekerja selama satu tahun di perusahaan media. Ia menilai upah layak Rp 7.540.000 adalah angka ideal untuk jurnalis pemula. Namun kenyataannya, upah layak tersebut baru diterima seorang jurnalis setelah bekerja lebih dari lima tahun.

    Nurhasim mengatakan AJI Jakarta menilai jika upah layak itu diberikan kepada jurnalis, maka mutu produk jurnalisme juga akan meningkat. Sebab, jurnalis bisa bekerja secara profesional dan tidak tergoda menerima amplop yang merusak independensi jurnalis."Gaji yang kecil sering memicu jurnalis menerima sogokan dari narasumber," katanya.

    BACA JUGA
    Kenapa Laba-laba Tidak Terjerat Jaringnya Sendiri?
    Mau Jual Rumah, Rupanya Begini Keadaan Ekonomi Saipul Jamil

    Kenaikan upah layak ini, kata Nurhasim, didasarkan pada survei  kenaikan harga-harga kebutuhan jurnalis di Jakarta yang dilakukan AJI Jakarta pada April 2016. Nurhasim mengatakan jurnalis memiliki kebutuhan tersendiri agar mampu bekerja profesional. AJI Jakarta, kata dia, menghitung angka tersebut dari 40 komponen kebutuhan hidup berdasarkan 5 kategori ditambah tabungan 10 persen.

    Kategori itu di antaranya makanan, tempat tinggal, komputer jinjing (laptop) dengan jaringan internet, serta kebutuhan pendukung lainnya. Nurhasim mengatakan perhitungan upah layak juga sudah memperhitungkan inflasi. Selain itu terdapat kebutuhan khas bagi jurnalis seperti langganan koran, modem, atau menyicil komputer. Sehingga membut upah layak jauh di atas upah minimum provinsi (UMP).

    AJI Jakarta menekankan pentingnya kesejahteraan jurnalis. "Ketika jurnalis sejahtera, akan tercipta produk jurnalistik bermutu yang mendidik dan mencerdaskan bangsa, " katanya.

    Di samping itu, perusahaan media juga wajib menjamin keselamatan kerja, kesehatan, dan jaminan sosial kepada setiap jurnalis dan keluarganya. Ini termasuk hak-hak jurnalis perempuan seperti ruang laktasi, cuti haid, dan melahirkan. "AJI Jakarta masih menemukan pemecatan atau penghentian kontrak pada jurnalis karena hamil. Jurnalis juga memiliki risiko tinggi dan rentan terkena tindakan kriminal," kata Nurhasim.

    Nurhasim mengatakan saat ini upah total yang diterima jurnalis pemula berkisar Rp 3-4 juta per bulan. Angka itu dinilai tidak berubah beberapa tahun belakangan. Selain itu, upah juga berada sedikit di atas UMP Jakarta sebesar Rp 3,1 juta. Padahal, jurnalis sering bekerja melebihi 8 jam tanpa mendapat upah lembur. Bahkan AJI Jakarta menemukan ada media yang masih memberi upah jurnalis di bawah UMP.

    DANANG FIRMANTO

    BERITA MENARIK
    Mau Jual Rumah, Rupanya Begini Keadaan Ekonomi Saipul Jamil
    Ini Alasan Sebenarnya Pernikahan Rina Nose-Fakhrul Ditunda


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lembaga Survei: 5 Hal Penting dalam Quick Count Pilpres 2019

    Perkumpulan Survei Opini Publik angkat bicara soal quick count di Pemilu dan Pilpres 2019 yang diragukan kubu Prabowo Subianto - Sandiaga Uno.