Cerita Keluarga Sang Kapten yang Tersandera Perompak Filipina

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pasukan elit Angkatan Laut Denjaka bersiap mengevakuasi sandera saat menggelar latihan Operasi Intelejen Kontra Terorisme di Gedung Pelni, Jakarta, 20 Desember 2015. Dalam latihan ini disimulasikan terjadinya pembajakan kapal dan penyanderaan. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    Pasukan elit Angkatan Laut Denjaka bersiap mengevakuasi sandera saat menggelar latihan Operasi Intelejen Kontra Terorisme di Gedung Pelni, Jakarta, 20 Desember 2015. Dalam latihan ini disimulasikan terjadinya pembajakan kapal dan penyanderaan. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    TEMPO.CO, Bekasi - Kapten Moch. Ariyanto Misnan tetap memimpin anak buah kapal tugboat Henry menuju Filipina, awal bulan ini. Tugas dari perusahaan PT Global Trans Energy Internasional itu tak bisa dia tolak. Padahal orang tuanya, Melati Ginting, 52, melarangnya berlayar pada hari itu. 

    "Dia izin ke Filipina, saya melarang karena khawatir ada pembajakan," kata Melati Ginting di rumahnya di Pengasinan, Kecamatan Rawalumbu, Kota Bekasi, Rabu, 20 April 2016.

    Melati pantas khawatir. Kelompok militan Filipina, Abu Sayyaf, telah menyandera sepuluh anak buah kapal TB Brahma, 26 Maret lalu. Sampai sekarang, mereka masih belum kembali. Upaya pemerintah Indonesia dan militer Filipina belum berhasil. Padahal mereka sudah lebih dari sepekan disandera.

    Menjelang berangkat, Kapten Ariyanto bisa meyakinkan keluarga. Aparat keamanan akan mendampingi pelayaran ke Filipina. Pupuslah kekhawatiran Melati. "Saya mengizinkannya."

    Dari Tarakan, Kapten Ariyanto mengangkat sauh bersama sembilan anak buah kapalnya. Ia mendapat kawalan selama pelayaran. Berlabuh di Filipina, perjalanan lancar. Keluarga lega mendengar pelayaran Ariyanto tanpa gangguan.

    Waktu kembali menuju Tarakan, barulah kekhawatiran Melati terbukti. Di perairan perbatasan Malaysia-Filipina, kapal yang dinakhodai Ariyanto dirompak. Seorang anak buah kapalnya tertembak. Empat dari sepuluh orang di dalamnya disandera. Ariyanto termasuk orang yang disandera.

    Sampai kini tak jelas siapa penyandera mereka. Pemerintah tak yakin sepenuhnya bahwa Ariyanto disandera oleh kelompok yang sama dengan penyandera kapal TB Brahma. Pemerintah mengumumkan TB Brahma disandera oleh kelompok Abu Sayyaf.

    Penyandera Ariyanto meminta tebusan senilai Rp 14,5 miliar. Melati mendapat kabar pelayaran Ariyanto menuju Tarakan tanpa pengawalan, seperti keberangkatannya. Hal itu membuatnya heran. "Kenapa enggak pergi-pulang dikawal?" ucap Melati.

    Tak ada yang bisa dilakukan keluarga Ariyanto selain menanti kabar baik. Mereka berharap, para penyandera segera membebaskan kapten kapal tersebut. "Kami ingin Ariyanto pulang dengan selamat," kata kakak kandungnya, Moch. Indra Purwanto.

    ADI WARSONO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Virus Korona COVID-19 Hantam Ekonomi Indonesia pada Maret 2020

    Dampak Virus Korona terhadap perekonomian Indonesia dipengaruhi kondisi global yang makin lesu. Dunia dihantam coronavirus sejak Desember 2019.