Penderita Katarak di NTB Tertinggi di Dunia, Ini Sebabnya  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Operasi Katarak. ANTARA/Rahmad

    Operasi Katarak. ANTARA/Rahmad

    TEMPO.CO, Jakarta - Nusa Tenggara Barat merupakan provinsi dengan jumlah penderita katarak terbesar di dunia. Hal ini berdasarkan riset yang dilakukan Fred Hollows Foundation Australia.

    "Dari penelitian tahun 2014 itu ditemukan 27 ribu penderita," kata Kepala Seksi Pelayanan Balai Kesehatan Mata Mataram (BKMM) dr Handomi Hasan pada Senin malam, 18 April 2016.

    Handomi menjelaskan kebanyakan penderita adalah warga miskin yang pekerjaannya nelayan dan petani. Hal itu disebabkan sinar matahari, selain faktor gizi, usia, pola hidup, dan pekerjaan. “Sinar ultraviolet itu merusak dinding lensa,” katanya.

    Persentase tertinggi para penderita katarak tersebut hingga 60 persen yang merupakan penduduk di Pulau Sumbawa. Sebanyak 70 persen adalah warga miskin dan sangat miskin yang pekerja sebagai petani, dan tidak memiliki kartu kesehatan.

    Tahun 2015, BKMM menangani operasi katarak 7.850 orang. Sedangkan tahun ini ada target bakti sosial dari dana kemanusiaan dari pembaca media nasional sebanyak 2.000 orang. “Kami bekerja gratis, tidak menerima honor dari pelayanan ini,” ujarnya.

    Untuk pelayanan operasi berbiaya, BKMM hanya menetapkan tarif operasi sebesar Rp 1,7 juta. Tarif yang murah jika dibanding biaya operasi rumah sakit pemerintah sebesar Rp 4,8 juta dan rumah sakit swasta di Mataram sebesar Rp 9 juta.

    Dari Data Badan Pusat Statistik (BPS) Nusa Tenggara Barat per September 2015, angka kemiskinan di Nusa Tenggara Barat sebanyak 802,29 ribu orang. Jumlah penduduk miskin di daerah perdesaan lebih tinggi dibanding daerah perkotaan.

    Penduduk miskin di daerah perkotaan berjumlah sekitar 377,28 ribu orang (18,40 persen) sedangkan di daerah perdesaan berjumlah sekitar 425,01 ribu orang (15,18 persen).

    Menurut Kepala BPS Nusa Tenggara Barat Wahyudin, garis kemiskinan pada September 2015 sebesar Rp 322.698 mengalami kenaikan jika dibandingkan dengan garis kemiskinan pada Maret 2015, yakni Rp 314.238.

    “Garis kemiskinan makanan (GKM) jauh lebih besar dibandingkan dengan garis kemiskinan bukan makanan (GKBM),” ucapnya. Pada keadaan September 2015 untuk GKM sebesar Rp 241.112. Sedangkan untuk GKBM sekitar Rp 81.577.

    SUPRIYANTHO KHAFID


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Peta Bencana Sejumlah Sudut Banjir Jakarta di Akhir Februari 2020

    Jakarta dilanda hujan sejak dini hari Rabu, 25 Februari 2020. PetaBencana.id melansir sejumlah sudut yang digenangi banjir Jakarta hingga pukul 15.00.