Membangun Masyarakat Madani di Kota Metropolitan

Oleh:
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Meniru beberapa negara maju di Asia, SDM akan menjadi modal utama pembangunan Kota Pekanbaru di masa yang akan datang.

    Meniru beberapa negara maju di Asia, SDM akan menjadi modal utama pembangunan Kota Pekanbaru di masa yang akan datang.

    INFO NASIONAL - Bangunlah jiwanya, bangunlah raganya. Begitulah amanat para pendiri bangsa yang tercantum dalam lagu Indonesia Raya. Amanat ini menginspirasi Pemerintah Kota Pekanbaru periode 2012-2017 mencapai visi terwujudnya Pekanbaru sebagai kota metropolitan yang madani.

    Wali Kota Pekanbaru Firdaus mengatakan amanat dan visi pemerintahan itu kini dijalankan konsisten oleh Pemerintah Kota (Pemko) Pekanbaru sebagai bagian dari upaya membangun Indonesia menuju rakyat yang adil, makmur, dan sentosa. Pembangunan itu dimulai dengan membangun jiwa atau sumber daya manusia (SDM), lalu raga atau wilayah kota. “Yang menjadi jiwa Pekanbaru adalah seluruh rakyat dengan jumlah 1,1 juta jiwa. Sedangkan raga atau badannya adalah wilayah administrasi seluas 632,26 kilometer persegi,” katanya.

    Meningkatkan kualitas SDM, kata Firdaus, merupakan prioritas pembangunan kota saat ini. Ia belajar banyak dari beberapa negara di Asia, di antaranya Korea Selatan, Jepang, dan Singapura. Ketiganya itu berhasil menjadi negara maju karena memiliki sumber daya manusia berkualitas, meski tanpa sumber daya alam melimpah, seperti Indonesia. “Mereka tidak memiliki SDA, tapi mereka berhasil menjadi bangsa maju dengan ekonomi sejahtera. Itu menunjukkan betapa besarnya kekuatan SDM dibandingkan dengan SDA.”

    Pekanbaru, yang berjuluk Kota Bertuah, sebenarnya mirip dengan negara-negara tersebut, yakni tak memiliki SDA meskipun  daerah-daerah di sekitarnya kaya. Karena itu, SDM menjadi modal utama pembangunan kota di masa mendatang.

    Dalam hal pembangunan SDM, Pemko Pekanbaru bercita-cita mengubah penduduk ibu kota Riau ini menjadi masyarakat madani, yaitu masyarakat yang berperadaban, maju, modern, dan berkualitas. Menurut Firdaus, indikator masyarakat tersebut, antara lain sehat jasmani dan rohani, cerdas (berpendidikan, menguasai keterampilan, dan teknologi), serta memiliki budi pekerti yang baik (akhlakul karimah) dan cinta kepada budaya bangsa. Indikator ini akan mengantar masyarakat menuju sifat mandiri, tangguh, dan berdaya saing tinggi.

    Ada dua pendekatan yang dilakukan pemerintah untuk membentuk masyarakat madani, yaitu pemberdayaan masyarakat berbasis rukun warga (PMB RW) dan pemberdayaan rumah ibadah.

    PMB RW, yang dijalankan berdasarkan Peraturan Wali Kota Pekanbaru Nomor 44 Tahun 2014 dilakukan dengan tridaya, yaitu pemberdayaan SDM, pemberdayaan ekonomi kerakyatan, dan peningkatan kualitas lingkungan. Setiap RW mendapat anggaran Rp 50 juta sebagai stimulus serta seorang sarjana pendamping. “Kami juga melakukan pemetaan kependudukan yang terhubung dengan data di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil sehingga masyarakat dapat dikelompokkan dan diberdayakan sesuai dengan potensi masing-masing,” ujar Firdaus, yang belum lama ini mendapat gelar kepala daerah inspiratif.

    Pemberdayaan rumah ibadah dilaksanakan dengan program masjid paripurna, yakni menjadikan masjid tempat ibadah sekaligus tempat menyelesaikan persoalan-persoalan lingkungan sosial. Program ini juga dijalankan dengan tridaya. Tahun ini ditargetkan setiap kelurahan memiliki satu masjid paripurna.

    Menurut Firdaus, dua program permberdayaan masyarakat madani itu mengarah ke pencapaian Pekanbaru sebagai smart city. Dari enam indikator smart city yang ditetapkan, lima di antaranya mulai terlihat, yaitu smart government, smart people, smart economy, smart environment, dan smart mobility. “Yang belum hanya smart living, yang ditandai setiap tempat tinggal didukung teknologi informasi,” ucapnya.

    INFORIAL


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hal yang Dilarang dan Dibatasi Selama Pemberlakuan PSBB Jakarta

    Anies Baswedan memberlakukan rencana PSBB pada 9 April 2020 di DKI Jakarta dalam menghadapi Covid-19. Sejumlah kegiatan yang dilarang dan dibatasi.