Setahun Gempa, Nias Masih Tertinggal

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Jakarta: Setahun bencana gempa dan gelombang tsunami di Nias, rehabilitasi di kepulauan ini belum menampakkan hasil baik. Musibah yang terjadi pada 28 Maret 2005 lalu, dibanding Aceh yang sama-sama terkena gempa, pembangunan kembali infrastruktur maupun rumah penduduk masih jauh tertinggal.Menurut William Syahbandar, staf Badan Rekontruksi dan Rehabilitasi (BRR) Kantor Nias, saat ini masih sekitar 13 ribu jiwa yang bermukim di pengungsian. Sebanyak 3.500 jiwa di antaranya tinggal di tenda darurat. "Jumlah rumah yang dibangun baru 1.448 unit, 615 unit di antaranya dibangun oleh BRR," sebut William Senin malam.Dia menjelaskan, saat ini tengah berlangsung pembangunan sebanyak 1.331 unit rumah. Berdasarkan catatan BRR tak kurang dari 20 ribu rumah rusak berat ketika gempa.Sebanyak 723 gedung sekolah rusak dari jumlah keseluruhan 879 sekolah. Saat ini baru 12 sekolah yang selesai dibangun.William mengakui pembangunan kembali Nias terlambat. Penyebabnya, kata dia, karena BRR telambat memulai."Kami baru memulai Desember 2005. Selain itu di Nias sempat ada masa tanggap darurat," katanya memberi alasan.Masalah logistik dan suplai material bangunan juga menjadi kendala serius. Di Nias hanya ada dua pelabuhan i untuk keluar masuk barang. Menurutnya, sekarang terdapat a sekitar 60 lembaga swadaya termasuk United Nation yang bekerja di Nias. "Perhatian lembaga donor kurang untuk Nias," sebut William.Toni Rahardjo, Senior Operation IOM di Nias menilai, lambatnya pembangunan Nias terkendala karena masalah transportasi dan masalah administrasi. Dia menyebutkan, kesulitan memasok material ke lokasi proyek. Kondisi jalan sangat jelek dan rusak parah dengan banyak jembatan yang tidak bisa dilalui. Daerah-daerah yang jalannya rusak berat seperti Aman Raya, Leluwau, Lelematua, dan Afulu. IOM sendiri telah melakukan pembangunan 15 jembatan sejak April 2005 lalu.Untuk pembangunan sekolah, IOM dan UNICEF merencanakan membangun 75 sekolah di 43 lokasi. "Dalam enam bulan selesai dibangun," ujar Paul Dillon dari IOM.Adi Warsidi

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.