Bupati Dedi Soal Ahok: Bukan Deparpolisasi, Melainkan Otokritik  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga memadati salah satu posko Teman Ahok di Kuningan City, Jakarta, 11 Maret 2016. Teman Ahok berharap Ahok dapat maju sebagai calon Gubernur Independen dalam mewujudkan Jakarta baru yang lebih bersih, maju dan manusiawi. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    Warga memadati salah satu posko Teman Ahok di Kuningan City, Jakarta, 11 Maret 2016. Teman Ahok berharap Ahok dapat maju sebagai calon Gubernur Independen dalam mewujudkan Jakarta baru yang lebih bersih, maju dan manusiawi. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    TEMPO.COPurwakarta - Bupati Purwakarta, Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menilai keputusan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok mencalonkan diri menjadi Gubernur DKI Jakarta 2017 melalui jalur independen bukan merupakan bentuk deparpolisasi.

    "Kalau menurut saya, keputusan Pak Ahok itu merupakan bagian dari otokritik publik terhadap partai politik. Bukan deparpolisasi," katanya kepada Tempo, Sabtu pagi, 12 Maret 2016.

    Menurut Dedi, karena otokritik, sudah sepantasnya para pemimpin partai politik berintrospeksi diri, terutama soal sistem dan manajemen partai yang tidak profesional. Dengan cara itu, partai politik bakal mampu merespons setiap keinginan yang berkembang di kalangan publik. "Bukan sebaliknya, gagap dalam menyerap setiap aspirasi publik."

    Politikus Partai Golkar Jawa Barat itu menuturkan saat ini demokrasi di tubuh partai sedang terdegradasi sangat tajam. Indikatornya, segala hal yang berbau sentralistik mulai muncul dalam sistem kepartaian di Indonesia. "Padahal, semestinya, parpol itu harus menjadi pelopor demokrasi," ujarnya.

    BACA:

    Yusril dan Adhyaksa Berjanji Tak Akan Mainkan Isu SARA
    Saran untuk Partai Politik Supaya Ahok Tak Menangi Pilgub DKI
    Ahok Bakal Rugi karena Tidak Mau Maju Lewat Partai? 
    Ahok Maju Lewat Jalur Independen, Luhut: Itu Bukan Deparpolisasi 

    Karena itu, pencalonan Ahok melalui jalur independen, kata Dedi, seharusnya dijawab dengan keberanian partai politik menampilkan kader-kader terbaiknya. "Karena seolah-olah parpol sekarang telah kehilangan figur kader," tutur pria yang sehari-sehari selalu mengenakan pakaian khas Sunda itu.

    Dedi mengimbuhkan nama Ahok di jagat perpolitikan semakin berkibar karena berhasil mengejawantahkan keinginan-keinginan masyarakat Ibu Kota yang bertentangan dengan kebijakan partai politik. Partai politik sendiri, kata Dedi, bisa kembali berkibar namanya jika berhasil mewujudkan aspirasi masyarakat. "Dengan begitu, deparpolisasi akan berangsur surut."

    Isu deparpolisasi itu muncul saat Ahok memutuskan memilih jalur independen dan menggadang-gadang Heru Budi Hartono sebagai calon wakilnya dalam pilkada 2017. Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah DKI Prasetyo Edi Marsudi pun menyindir relawan yang mendorong Ahok maju dari jalur independen. "Negara ini dibangun oleh partai politik, bukan relawan," katanya, beberapa waktu lalu.

    NANANG SUTISNA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lika-Liku Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Pengganti Sandiaga Uno

    Kursi Wakil Gubernur DKI Jakarta kosong sejak Agustus 2018. Pada Januari 2020, Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Gerindra mengajukan dua nama.