Reshuffle Kabinet Jokowi, Luhut: Tanyalah pada Rumput yang Bergoyang

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Luhut Binsar Pandjaitan, Menteri Politik, Hukum, dan Keamanan. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    Luhut Binsar Pandjaitan, Menteri Politik, Hukum, dan Keamanan. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    TEMPO.COJakarta - Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Luhut Binsar Pandjaitan belum berkomentar banyak seputar kabar akan adanya perombakan Kabinet Kerja pemerintah Joko Widodo jilid kedua.

    "Soal itu, tanya pada rumput yang bergoyang sajalah, tanya Presiden juga. Presiden yang punya kewenangan untuk itu, tak masuk portofolio saya," ujarnya di kantor Kementerian Politik, Jumat, 11 Maret 2016.

    Luhut mengatakan Presiden Jokowi pasti punya pertimbangan dan tahu apa yang harus dilakukan. "Kalaupun jadi ada reshuffle, itu untuk mendapatkan manusia yang lebih baik lagi dalam pemerintah," katanya.

    Sebelumnya, saat ditanya soal tudingan bahwa Luhut membekingi Rizal agar tidak dicopot Jokowi, Luhut berkelit. "Saya enggak pernah bicara soal reshuffle. Tanya kepada Presiden aja," tuturnya.

    Adapun Menteri Koordinator Kemaritiman Rizal Ramli juga menolak bicara soal isu pencopotannya dari Kabinet Kerja. Rizal sempat dikabarkan sebagai penyebab kegaduhan yang membuat Jokowi tak nyaman.

    "Nanya Pak Jokowi aja. Gitu aja kok ribet," kata Rizal saat dihampiri wartawan, Kamis, 10 Maret 2016.

    Dalam isu reshuffle tersebut, Jokowi disebut berencana mencopot Rizal karena heboh akibat silang pendapat antara Rizal serta Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Sudirman Said.

    Rizal dan Sudirman berbeda pendapat ihwal pembangunan kilang gas alam cair Blok Masela, Maluku. Rizal ingin Blok Masela dibangun di darat, sedangkan Sudirman ingin Blok Masela terapung di laut. Perseteruan itu berlanjut di jejaring sosial Twitter.

    YOHANES PASKALIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Komentar Yasonna Laoly Soal Harun Masiku: Swear to God, Itu Error

    Yasonna Laoly membantah disebut sengaja menginformasikan bahwa Harun berada di luar negeri saat Wahyu Setiawan ditangkap. Bagaimana kata pejabat lain?