Agar Rukun, FKUB Solo Raya Gencar Sosialisasikan Pluralisme

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Maria Rita Hasugian (kanan) dan Kodrat Setiawan (empat dari kanan), jurnalis media Tempo memperoleh juara 1 Anugerah untuk Insan Jurnalis KUB Tahun 2015 kategori media online dan Media Cetak saat Malam Anugerah Kerukunan Umat Beragama Tahun 2015 di kantor Kementrian Agama, Jakarta, 30 Desember 2015. Foto: Istimewa

    Maria Rita Hasugian (kanan) dan Kodrat Setiawan (empat dari kanan), jurnalis media Tempo memperoleh juara 1 Anugerah untuk Insan Jurnalis KUB Tahun 2015 kategori media online dan Media Cetak saat Malam Anugerah Kerukunan Umat Beragama Tahun 2015 di kantor Kementrian Agama, Jakarta, 30 Desember 2015. Foto: Istimewa

    TEMPO.CO, Boyolali - Forum Kerukunan Umat Beragama se-Solo Raya menggelar rapat koordinasi bertajuk Menyemai Kedewasaan Beragama di aula kantor Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Boyolali pada Kamis, 10 Maret 2016.

    “Beragama itu harus dewasa, jangan kekanak-kanakan. Sudah tua masih saja pada tawuran. Untuk menuju kedewasaan itu kita harus paham yang namanya pluralisme,” kata Ketua FKUB Boyolali, Habib Masturi, saat ditemui Tempo di sela acara.

    Habib mengatakan, semua umat beragama adalah keluarga besar Tuhan. Maka itu, semua orang musti bisa hidup rukun berdampingan meski berbeda agama. “Tuhan paling senang pada orang yang bermanfaat bagi keluarga Tuhan yang lain. Dalam agama apapun, iman itu implementasinya amal saleh,” kata Habib.

    Habib berujar, amal saleh selama ini ditafsirkan dalam dua versi. Pertama, tafsir inklusif yang meyakini Tuhan memberikan pahala kepada semua orang yang berbuat baik tanpa membedakan agamanya. Kedua, tafsir ekslusif yang meyakini bahwa pahala hanya diberikan pada orang yang berbuat baik dari agama tertentu saja.

    Penafsiran amal saleh secara eksklusif dinilai sebagai benih dari suburnya faham radikal. “Masih banyak kawan kita yang menafsirkan amal saleh secara ekslusif. Jangankan kepada orang beragama lain, saudara seiman yang berbeda aliran saja mereka perangi. Mereka inginnya menularkan konflik di Timur Tengah ke sini. Ini harus dicegah,” ujar Habib.

    Mensosialisasikan pluralisme kepada seluruh lapisan masyarakat diyakini sebagai solusi ampuh untuk mencegah pemahaman sempit dalam beragama. Menurut Habib, FKUB Boyolali sudah gencar mengenalkan hal ihwal pluralisme ke para perangkat desa, tokoh agama, hingga pondok-pondok pesantren di 15 dari 19 kecamatan di Boyolali.

    “Koordinasi FKUB se-Solo Raya ini penting karena Solo Raya dikenal bersumbu pendek. Semua tahu apa arti sumbu pendek itu,” kata Habib. Dia menambahkan, gerakan mengenalkan pluralisme kepada masyarakat membutuhkan perjuangan keras. “Karena kami baru mulai hari ini. Sedangkan mereka melakukan cuci otak sudah sejak lama,” kata Habib.

    Wakil Bupati Boyolali Said Hidayat mengapresiasi upaya FKUB se-Solo Raya memupuk gerakan penanaman kedewasaan dalam beragama terhadap seluruh lapisan masyarakat. “Faham radikalisme itu tidak dapat dipungkiri keberadaannya. Maka itu kami mendorong FKUB agar aktif menyadarkan masyarakat ihwal pentingnya persatuan,” kata Said saat ditemui di sela acara.

    DINDA LEO LISTY


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.