Anak Muda, Mahasiswa, dan Diet Plastik yang Keren  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Model dan aktivis lingkungan, Davina Veronica dalam acara dukungan gerakan kantong plastik berbayar di Jakarta, 17 Februari 2016. Tempo/Rezki Alvionitasari

    Model dan aktivis lingkungan, Davina Veronica dalam acara dukungan gerakan kantong plastik berbayar di Jakarta, 17 Februari 2016. Tempo/Rezki Alvionitasari

    TEMPO.COYogyakarta - Kalangan muda dari berbagai komunitas yang peduli lingkungan berkelanjutan mengajak warga Yogyakarta untuk diet penggunaan plastik.

    Satu di antara komunitas yang peduli pada lingkungan berkelanjutan adalah Koalisi Pemuda Hijau Indonesia Yogyakarta. Komunitas ini beranggotakan mahasiswa dari berbagai universitas di Yogyakarta. 

    Ketua Koalisi Pemuda Hijau Indonesia Yogyakarta Gilang Ariya Pratama mengatakan setidaknya terdapat 70 kilogram sampah plastik yang dipunguti oleh berbagai komunitas peduli lingkungan di Yogyakarta. Mereka turun ke jalan seiring dengan Hari Peduli Sampah Nasional. 

    Sampah-sampah itu di antaranya terdiri atas kresek, botol plastik, kertas, dan dedaunan. "Kami menemukan sampah plastik yang sulit terurai dan dikubur di dalam tanah," kata Gilang kepada Tempo di Perpustakaan Daerah Istimewa Yogyakarta. Senin, 22 Februari 2016. 

    Ahad kemarin, ratusan pemuda menyusuri gang-gang perkampungan penduduk. Ada sepuluh komunitas yang terlibat dalam gerakan itu. Selain Koalisi Pemuda Hijau, ada Sobat Bumi dan Youth Forum Climate Change. 

    Sampah-sampah yang dikumpulkan oleh komunitas itu kini ditumpuk di Bank Sampah Syariah Institut Sains dan Teknologi AKPRIND Yogyakarta. Sampah-sampah tersebut akan didaur ulang. 

    Selain mengolah sampah, sepuluh komunitas yang peduli pada lingkungan itu, kata Gilang, membuat 50 tas berbahan kain berwarna hijau. Tas-tas ramah lingkungan itu dibagikan kepada penduduk Yogyakarta di sekitar Malioboro dan Alun-alun Utara.

    Tujuan bagi-bagi tas itu adalah mengajak orang untuk mengganti tas kresek dengan tas ramah lingkungan yang bisa dipakai berulang kali. Biaya pembuatan tas itu didapat dari hasil patungan semua anggota komunitas. 

    Koalisi Pemuda Hijau Indonesia berdiri sejak 2011. Komunitas yang diinisiasi mahasiswa Universitas Indonesia dan Universitas Gadjah Mada ini memulai gerakan mencintai lingkungan dengan membuat petisi mengurangi penggunaan botol air minum plastik tahun 2013. 

    Di Indonesia, komunitas ini tersebar di 17 provinsi. Sedangkan di Yogyakarta anggotanya ada dari UGM, Universitas Negeri Yogyakarta, dan Universitas Ahmad Dahlan. Gerakan mereka di antaranya mengambil sampah-sampah di sekitar pantai di Yogyakarta. "Kami berharap anak-anak muda tergerak untuk peduli lingkungan," kata Gilang, yang juga mahasiswa Universitas Ahmad Dahlan. 

    Direktur Bank Sampah Syariah IST AKPRIND Yogyakarta Wisnu Prayogo mengatakan sampah yang dikumpulkan Ahad kemarin sebanyak 3,558 meter kubik, terdiri atas sampah plastik, kertas, dan organik. "Untuk sampah organik, Bank Sampah Syariah akan menyalurkannya sebagai bahan pembuatan kompos. Sedangkan kertas dan plastik akan dijual, dan uang hasil penjualan akan disumbangkan," kata Wisnu. 

    SHINTA MAHARANI


     

     

    Lihat Juga