Mau Berantas Virus Zika? Peneliti Unair Ini Punya Jawabannya

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang petugas melakukan penyemprotan obat guna membasmi jentik nyamuk Aedes Aegpty yang menyebarkan virus Zika di Buenos Aires, Argentina, 27 Januari 2016. Diketahui ribuan ibu hamil melahirkan anak cacat karena terjangkit virus Zika. (AP Photo)

    Seorang petugas melakukan penyemprotan obat guna membasmi jentik nyamuk Aedes Aegpty yang menyebarkan virus Zika di Buenos Aires, Argentina, 27 Januari 2016. Diketahui ribuan ibu hamil melahirkan anak cacat karena terjangkit virus Zika. (AP Photo)

    TEMPO.CO, Surabaya – Peneliti Lembaga Penyakit Tropis atau Institute of Tropical Disease (ITD) Universitas Airlangga mengimbau agar masyarakat tak panik menyikapi pemberitaan soal virus Zika. Walaupun satu kasus pernah terdeteksi di Jambi, virus tersebut dapat ditangani layaknya virus Demam Berdarah Dengue (DBD).

    “Sebetulnya nggak usah panik. Virus Zika ini sebetulnya ringan,” kata Kepala ITD Unair, Profesor Maria Inge Lusida saat dihubungi Tempo, Rabu, 3 Februari 2016. (Baca juga: Bali Turut Berpotensi Terjangkit Virus Zika)

    Inge menjelaskan, penyebaran virus Zika sama dengan penyebaran virus DBD yakni melalui nyamuk Aedes Aegypti. Maka, memberantasnya tak jauh berbeda dengan penyakit tersebut.

    Selama ini masyarakat diberi pengetahuan memberantas DBD dengan metode 3M. Yaitu menguras tempat-tempat penampungan air, menutup rapat semua tempat penampungan air, dan mengubur semua barang-barang bekas yang ada di sekitar rumah. (Baca juga: Geger Virus Zika, Ilmuwan: Harus Segera Ada Vaksin)

    Cara itu, kata Inge, dapat memutus mata rantai siklus hidup virus DBD dalam tubuh nyamuk, termasuk virus Zika. “Penularannya lewat nyamuk yang sama dengan DBD. Jadi memberantasnya juga sama,” kata dia.

    Selain itu, virus Zika tak tergolong bersifat highly pathogenicOrganisasi kesehatan dunia, WHO bahkan menyatakan status darurat internasional akibat penyebaran virus Zika ini. atau sangat menular. Ini berbeda dengan virus Avian Influenza, MERS, maupun Ebola. Sehingga, menurutnya virus Zika tak bisa terdeteksi menggunakan thermal scanner atau alat pemindai yang terpasang di bandara.

    Screening di bandara itu kan, untuk mikrooganisme yang sangat menular seperti Avian Influenza, Ebola, MERS,” ujarnya, lalu menambahkan bahwa virus Zika memang berbahaya bagi ibu hamil. Pada ibu yang tengah mengandung, virus Zika mengakibatkan gangguan janin dengan otak mengecil (mikrosefalus).

    Untuk itu, Inge mengimbau masyarakat tak perlu panik, namun bersikap waspada. “Kalau awal-awal mengalami demam dan tidak diketahui apa penyebabnya, segeralah mengecek darah.” (Baca juga: Terungkap, Indonesia Sudah Diserang Virus Zika Tahun lalu)

    Hingga saat ini, lebih dari 20 negara, termasuk Brasil, telah melaporkan terjadinya kasus infeksi virus Zika. Sebagian besar infeksi yang terjadi ringan, bahkan tanpa gejala, meskipun ada laporan terjadi gangguan kelumpuhan yang disebut sindrom Guillain-Barre.

    Organisasi kesehatan dunia, WHO bahkan menyatakan status darurat internasional akibat penyebaran virus Zika. Asia dan Eropa pun diminta waspada. (Baca juga: Kementerian Kesehatan : Indonesia Waspada Virus Zika)

    ARTIKA RACHMI FARMITA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Nike ZoomX Vaporfly yang Membantu Memecahkan Rekor

    Sejumlah atlet mengadukan Nike ZoomX Vaporfly kepada IAAF karena dianggap memberikan bantuan tak wajar kepada atlet marathon.