Sepekan Menganggur, Pengikut Gafatar Mulai Resah

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang mantan anggota organisasi kemasyarakatan Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) beraktvitas di tempat penampungan Asrama Haji Donohudan, Boyolali, Jawa Tengah, 26 Januari 2016. Sekitar 431 orang mantan anggota Gafatar ditampung di Asrama Haji Donohudan. TEMPO/Pius Erlangga

    Seorang mantan anggota organisasi kemasyarakatan Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) beraktvitas di tempat penampungan Asrama Haji Donohudan, Boyolali, Jawa Tengah, 26 Januari 2016. Sekitar 431 orang mantan anggota Gafatar ditampung di Asrama Haji Donohudan. TEMPO/Pius Erlangga

    TEMPO.CO, Boyolali - Sebagian pengikut Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) asal luar Jawa yang ditampung di Asrama Haji Donohudan, Kabupaten Boyolali, sejak Rabu, pekan lalu, mempertanyakan kepastian nasibnya setelah pemerintah membawa mereka ke Jawa.

    Salah satunya Samurji, warga Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. “Kami harus segera pulang dan kembali bekerja. Tidak mungkin selamanya di sini dan menggantungkan hidup pada bantuan pemerintah,” kata perempuan 38 tahun itu pada Tempo, Selasa, 2 Februari 2016.

    Sama dengan sejumlah pengikut Gafatar yang sudah memiliki identitas resmi sebagai penduduk Kabupaten Ketapang, Samurji sebenarnya warga pendatang. “Saya aslinya dari Kabupaten Sleman, DIY,” kata Samurji.

    Karena terdaftar sebagai warga Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, Samurji tidak termasuk dalam rombongan 256 pengikut Gafatar yang dijemput Pemerintah Provinsi DIY pada Jumat pekan lalu. Keluarga Samurji kini termasuk dalam rombongan 346 pengikut Gafatar asal Kalimantan Barat. Hingga Selasa siang, belum ada kepastian kapan Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat akan menjemput mereka.

    Samurji mengaku sudah jenuh tinggal di Asrama Haji Donohudan. Selama enam hari, dia dan ratusan pengikut Gafatar dari berbagai daerah hanya menganggur. “Tapi kami dilarang keluar dari kompleks Asrama Haji. Padahal, tidak semua kebutuhan kami tercukupi dari jatah bantuan yang ada,” kata Samurji.

    Dari pantauan Tempo, para pengikut Gafatar yang hendak membeli bermacam kebutuhan di warung atau toko di seberang kompleks Asrama Haji Donohudan musti meminta tolong warga sekitar. Barang belanjaan itu kemudian diserahkan melalui rongga-rongga pagar kompleks asrama.

    Kini persediaan uang Samurji mulai menipis. Uang dari hasil menjual barang-barang berharga sebelum meninggalkan Ketapang tinggal Rp 500 ribu. “Kami meminta pemerintah agar segera memulangkan kami ke Ketapang,” kata Samurji.

    Data yang dihimpun dari posko terpadu Asrama Haji Donohudan, masih ada 768 pengikut Gafatar yang ditampung sejak Rabu, pekan lalu. Dari jumlah itu, 346 orang dari Kalimantan Barat, 166 orang dari Lampung, dan 126 orang dari Sumatera Utara. Adapun 141 orang sisanya dari DIY, Jawa Barat, Kalimantan Tengah, Sulawesi Utara, Sulawesi Tenggara, Bangka Belitung, Papua, Riau, dan Jambi.

    Pada Senin malam lalu, Asrama Haji Donohudan menerima 35 pengikut Gafatar asal Jawa Tengah yang sebelumya ditampung di Rumah Perlindungan Trauma Center Jakarta. “Bus yang mengangkut rombongan itu sekaligus menjemput 11 warga DKI Jakarta yang ditampung di sini,” kata Kepala Subbidang Pemilu, Pendidikan, dan Budaya Politik Kesbangpol dan Linmas Jawa Tengah Haerudin.

    DINDA LEO LISTY


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sulli dan Artis SM Entertaintment yang juga Tewas Bunuh Diri

    Sulli, yang bernama asli Choi Jin-ri ditemukan tewas oleh managernya pada 14 Oktober 2019. Ada bintang SM lainnya yang juga meninggal bunuh diri.