Soekarwo: Rekrutmen Buruh Migran Ilegal Itu seperti Gafatar

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Penyanyi dangdut dan Mantan Tenaga Kerja Wanita, Dila, menghibur para TKI dalam pertemuan 1000 TKI dengan Diaspora Indonesia, di Ballroom XXI Djakarta Theater, 11 Agustus 2015. TEMPO/Imam Sukamto

    Penyanyi dangdut dan Mantan Tenaga Kerja Wanita, Dila, menghibur para TKI dalam pertemuan 1000 TKI dengan Diaspora Indonesia, di Ballroom XXI Djakarta Theater, 11 Agustus 2015. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Surabaya - Gubernur Jawa Timur Soekarwo mengatakan sangat sulit melarang warga desa menjadi buruh migran ilegal. Ini karena agen-agen perekrut buruh migran ilegal sangat banyak. "Perekrutan tenaga kerja ilegal itu sama seperti dengan perekrutan anggota Gafatar," kata Soekarwo di kantornya, Selasa, 2 Februari 2016.

    Rekrutmen biasanya dilakukan oleh para agen. Mereka mengajak orang-orang terdekatnya agar bersedia menjadi tenaga kerja ilegal. "Biasanya yang mempengaruhi keluarganya bahkan tetangganya."

    Selain mengandalkan orang-orang terdekatnya, agen biasanya juga memberikan iming-iming gaji besar. "Ini yang susah, padahal agen itu ambil keuntungannya sangat besar."

    Persoalan administrasi juga menjadi kendala yang besar bagi pemerintah provinsi untuk mencegah rekrutmen buruh migran ilegal. Ini karena biasanya agen tidak dapat memenuhi persyaratan administrasi yang ditetapkan pemerintah.

    Hal ini menyebabkan pemerintah sulit mendeteksi dan mengawasi. Pemerintah baru tahu ada warganya yang menjadi buruh migran ilegal jika para pekerja itu dideportasi atau mengalami masalah saat bekerja.

    Polisi Malaysia menemukan 13 jenazah warga Indonesia di perairan Johor, Selasa, 26 Januari 2016. Kapal yang diperkirakan membawa 30-35 penumpang ini diduga dihempas badai hingga terbalik. Polisi Malaysia masih mencari kemungkinan ada korban lain yang belum ditemukan. Korban tewas terus bertambah menjadi 23 yang sudah ditemukan.

    EDWIN FAJERIAL


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perbedaan Pilkada Langsung, Melalui DPRD, dan Asimetris

    Tito Karnavian tengah mengkaji sejumlah pilihan seperti sistem pilkada asimetris merupakan satu dari tiga opsi yang mungkin diterapkan pada 2020.