Jokowi Sentil Rektor: 'Kampus Jangan Hidup Dalam Lamunan'  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Jokowi memberikan sambutan saat membuka perdagangan saham tahun 2016 di BEI, Jakarta, 4 Januari 2016. Secara tahunan (year to date) IHSG turun sebanyak 633,94 poin atau 12,13 persen dibanding penutupan tahun 2014. TEMPO/Subekti.

    Presiden Jokowi memberikan sambutan saat membuka perdagangan saham tahun 2016 di BEI, Jakarta, 4 Januari 2016. Secara tahunan (year to date) IHSG turun sebanyak 633,94 poin atau 12,13 persen dibanding penutupan tahun 2014. TEMPO/Subekti.

    TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Joko Widodo menyempatkan berbicara selama setengah jam saat membuka Konferensi Nasional Forum Rektor Indonesia (FRI) ke-18 di Auditorium Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) pada Jumat malam, 29 Januari 2015.

    Saat berbicara di depan 425 rektor dan ketua perguruan tinggi se-Indonesia tersebut, Jokowi menyentil kelambanan komunitas akademik menjawab persaingan ketat di kancah perekonomian global. "Perguruan tinggi jangan hidup dalam lamunan sendiri," kata Jokowi.

    Dia mengaku kalimat sindirannya itu bukan karangannya sendiri. Kata-kata itu, menurut dia, pernah diucapkan oleh Rektor Universitas Gadjah Mada, Dwikorita Karnawati di sebuah forum dan diam-diam dicatat oleh Jokowi. "Maksudnya mungkin, jangan bekerja untuk lingkungannya sendiri saja, tapi bekerjalah untuk kemanfaatan bangsa dan masyarakat," kata Jokowi.

    Dia menjelaskan kebutuhan Indonesia saat ini ialah keharusan berlari cepat memacu efisiensi dan pertumbuhan produksi. Persaingan ketat di perekonomian global mengharuskan Indonesia mengubah etos kerja, kualitas daya saing dan kesigaban dalam merespon perubahan.

    "Dunia berubah dalam hitungan detik, jam. Kalau tidak ke sana (memperbaiki daya saing dengan cepat), kita bisa jadi pecundang dan sulit memenangkan kompetisi," kata Jokowi.

    Menurut Jokowi, komunitas kampus bisa mengambil peran dengan menggenjot jumlah riset yang berfokus menemukan solusi aplikatif bagi persoalan bangsa. Dia meminta perguruan tinggi meningkatkan praktik riset yang berkaitan dengan peningkatan daya saing Indonesia dan membuahkan manfaat kongkret.

    Indonesia, katanya,  perlu segera memperbaiki buruknya infrastruktur, konektivitas, kelambanan birokrasi dan masih minimnya produk-produk inovatif yang siap diproduksi secara massal.

    Problem pemerataan kualitas pembangunan di desa-desa dan daerah tertinggal juga menanti solusi dari perguruan tinggi. "Kita harus adu cepat dengan negara lain," kata Jokowi.

    Karena itu, Presiden menyarankan manajemen semua kampus lebih kreatif mengelola mekanisme pendanaan riset. Menurut dia, selama ini pemerintah, BUMN dan komunitas industri telah siap menjadi mitra kampus untuk keperluan hilirisasi hasil riset.

    Ketua Forum Rektor Indonesia Periode 2015-2016, Rokhmat Wahab mengatakan baru kali ini konferensi tahunan organisasi oleh pejabat setingkat presiden.

    Rokhmat meyakini kedatangan Jokowi merupakan bentuk kepercayaan pemerintah terhadap kontribusi kalangan perguruan tinggi dalam pemecahan masalah bangsa. "Konferensi FRI ini forum strategis. Pimpinan kampus dan banyak pakar berkumpul untuk mencari solusi masalah bangsa," kata Rektor UNY tersebut.

    ADDI MAWAHIBUN IDHOM



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.