Alasan Eks Gafatar Ganti Kata Tuhan Menjadi Tuan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Anak dari warga eks anggota Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) ditandu turun dari KRI Teluk Banten 516 saat tiba di Dermaga Mako Kolinlamil, Jakarta, 27 Januari 2016. Para warga bekas anggota Gafatar yang tiba di Jakarta hari ini akan langsung dibawa menuju safe house (rumah aman) yang berada di Cibubur, Jakarta Timur oleh tim Kementerian Sosial sebelum dikembalikan ke daerah asalnya. TEMPO/M Iqbal Ichsan

    Anak dari warga eks anggota Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) ditandu turun dari KRI Teluk Banten 516 saat tiba di Dermaga Mako Kolinlamil, Jakarta, 27 Januari 2016. Para warga bekas anggota Gafatar yang tiba di Jakarta hari ini akan langsung dibawa menuju safe house (rumah aman) yang berada di Cibubur, Jakarta Timur oleh tim Kementerian Sosial sebelum dikembalikan ke daerah asalnya. TEMPO/M Iqbal Ichsan

    TEMPO.CO, Depok - Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) mengaku telah mengganti nama Tuhan menjadi tuan. Mereka beralasan, kata Tuhan asal katanya sama dengan tuan. Bahkan, dengan mengganti kata Tuhan dengan tuan, eks anggota Gafatar bisa lebih dekat dengan Sang Pencipta.

    Bekas Ketua DPD Gafatar Bengkulu periode 2013-2015, Andi Pratama, mengaku eks anggota Gafatar hingga saat ini meyakini penyebutan kata Tuhan menjadi tuan. Menurut dia, manusia adalah seorang hamba tuannya. "Ini hanya persepsi. Kami meyakini tuan semesta alam," kata Andi di tempat penampungan sementara eks anggota Gafatar di Taman Wiladatika Cibubur, Kamis, 28 Januari 2018.

    Andi  menjelaskan, eks anggota Gafatar telah keluar dari ajaran Islam yang mainstream. Eks anggota Gafatar mengikuti ajaran Nabi Ibrahim dan menyebut ajaran dengan nama Milah Ibrahim. Ibrahim disebut dalam Al-Quran adalah bapaknya para nabi.

    Ajaran nabi, menurut Andi, harus dilepaskan dari pengkotak-kotakan agama. Karena itu, anggota Gafatar mengikuti ajaran Nabi Ibrahim atau Milatah Abraham. "Kami menganggap Ibrahim sebagai tokoh sentral di agama apa pun," katanya.

    Di Indonesia, para pengikut Milah Abraham eks anggota Gafatar menjadikan pemimpin Al Qiyadah Al Islamiah, Ahmad Mushadeq, sebagai tokoh sentral. Bahkan Mushadeq dijadikan guru sentral eks anggota Gafatar. "Ahmad Mushadeq bukan pendiri Gafatar. Tapi kami menjadikan dia guru sentral," ucapnya.

    Prigiyanto, seorang eks anggota Gafatar, menjelaskan, penggantian nama Tuhan menjadi tuan agar para anggota Gafatar memiliki kedekatan dengan Sang Pencipta. Soalnya, manusia disebut sebagai hamba dan harus dekat dengan tuannya, Yang Maha Kuasa. "Tuhan diganti agar lebih dekat," katanya.

    Penggantian nama Tuhan ke tuan ini bertujuan agar eks anggota Gafatar lebih patuh kepada sang pencipta. Bahkan eks anggota Gafatar harus menanamkan rasa cinta kepada Tuhannya dengan menjaga alam. "Tuan ini tergantung persepsi. Kalau orang di luar eks anggota Gafatar, tuan itu orang. Kalau kami, tuan itu identik dengan Yang Maha Kuasa karena saya adalah hambanya," kata Prigiyanto.

    IMAM HAMDI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lolos ke Piala Eropa 2020, Ronaldo dan Kane Bikin Rekor

    Sejumlah 20 negara sudah memastikan diri mengikuti turnamen empat tahunan Piala Eropa 2020. Ada beberapa catatan menarik.