Adhyaksa Dault: Pramuka Bisa Cegah Paham Gafatar  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Polisi bermain bersama anak-anak di penampungan eks-anggota Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) di Asrama Transito Dinas Transmigrasi dan Kependudukan Jawa Timur, Surabaya, 24 Januari 2016. Selama di penampungan, anak-anak tersebut akan diberi pendampingan selama 3 hari berada di asrama. ANTARA/Zabur Karuru

    Polisi bermain bersama anak-anak di penampungan eks-anggota Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) di Asrama Transito Dinas Transmigrasi dan Kependudukan Jawa Timur, Surabaya, 24 Januari 2016. Selama di penampungan, anak-anak tersebut akan diberi pendampingan selama 3 hari berada di asrama. ANTARA/Zabur Karuru

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Kwartir Nasional Pramuka Adhyaksa Dault mengatakan pihaknya bakal membantu memberikan pemahaman kebangsaan kepada eks anggota Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) yang tiba di Taman Wiladatika, Cibubur, Depok, Rabu, 27 Januari 2016.

    Bahkan, menurut Adhyaksa, gerakan Pramuka sangat penting untuk mendidik generasi bangsa agar terhindar dari paham seperti Gafatar, yang menggabungkan tiga agama, yakni Yahudi, Nasrani, dan Islam.

    "Gerakan Pramuka mampu menangkap gerakan itu dan menumbuhkan rasa cinta NKRI," ucap Adhyaksa, yang pernah menjabat Menteri Pemuda dan Olahraga era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

    Menurut Adhyaksa, eks anggota Gafatar harus diberikan pemahaman akidah yang benar. Untuk sementara, para eks anggota Gafatar yang ditampung di Wiladatika akan diberi pemahaman agama. Selanjutnya, pemerintah daerah yang bertugas membina menjamin bahwa mereka sudah tidak mengikuti ajaran Gafatar.

    "Warga harus menerima dan jangan anarkistis kepada eks anggota Gafatar. Mereka sama-sama orang Indonesia," ujarnya.

    Budi, eks anggota Gafatar asal Tambun, mengaku hijrah ke Kalimantan untuk menyelamatkan enam anaknya dari pergaulan di Jakarta. "Pekerjaan saya sebagai petani nomor sekian. Yang penting, anak saya selamat dari Jakarta," tuturnya.

    Sementara itu, Nurtin, eks anggota Gafatar lain, mengaku sudah lima bulan berada di Bekayang, Kalimantan Barat, mengikuti suaminya. Di Bekayang, dia menggarap lahan pertanian seluas 10 hektare. "Saya sebenarnya betah di Kalimantan," kata Nurtin.

    IMAM HAMDI



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.