Pengakuan Mantan Anggota Gafatar: Salat dan Puasa Tak Wajib

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga melihat tabloid Gafatar (Gerakan Fajar Nusantara) terbitan 2014 di Jombang, Jawa Timur, 13 Januari 2016. Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengatakan inti ajaran Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) adalah hendak menyatukan agama-agama Ibrahim, yakni Islam, Yahudi, dan Kristiani. ANTARA/Syaiful Arif

    Warga melihat tabloid Gafatar (Gerakan Fajar Nusantara) terbitan 2014 di Jombang, Jawa Timur, 13 Januari 2016. Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengatakan inti ajaran Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) adalah hendak menyatukan agama-agama Ibrahim, yakni Islam, Yahudi, dan Kristiani. ANTARA/Syaiful Arif

    TEMPO.CO, Luwu - Andi Besse, 37 tahun, warga Desa Tobia, Kecamatan Ponrang Selatan, Kabupaten Luwu, mengaku pernah bergabung di kelompok Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) pada 2012. Dia direkrut adiknya bernama Andi Muliani, yang sudah terlebih dahulu masuk Gafatar.

    Awalnya, Andi Besse tertarik bergabung karena kelompok ini banyak melakukan kegiatan sosial kemasyarakatan, misalnya donor darah.

    "Saya bergabung tahun 2012, lupa bulannya. Salah satu alasan saya bergabung, karena kelompok ini mewajibkan anggotanya terlibat melakukan kegiatan sosial, seperti donor darah dan membantu orang-orang tidak mampu," kata Andi Besse, Rabu, 13 Januari 2016.

    Setelah bergabung dengan Gafatar, dia bersama adiknya, Andi Muliani, diundang menghadiri pertemuan akbar di Gedung CCC, Makassar, peserta yang hadir saat itu diperkirakan mencapai 2.000 orang.

    "Tapi saya kaget, saat akan masuk ke gedung, saya dicegat oleh panitia, katanya peserta perempuan harus melepas jilbab, saya kaget dan memilih keluar gedung," cerita Andi Besse.

    Andi Besse menolak melepas hijabnya. Dia kemudian mengajak adiknya pulang. Namun tiba-tiba datang panitia lain dan memintanya tetap masuk tanpa harus melepas hijab. Karena penasaran ingin mengetahui apa yang berlangsung dalam pertemuan itu, Andi Besse memutuskan untuk masuk ke gedung bersama adiknya.

    "Yang saya ingat persis saat itu, seluruh anggota Gafatar, tidak wajib salat lima waktu, tidak wajib puasa Ramadan, dan tidak wajib menutup aurat atau memakai jilbab," ungkapnya.

    Setelah pertemuan tersebut, Andi Besse memutuskan untuk keluar dari Gafatar, dia yakin, ajaran tersebut bertentangan dengan ajaran Islam yang dipercayainya. Namun adiknya, Andi Muliani, masih tetap bergabung dalam kelompok tersebut, bahkan pada 2013, Andi Muliani menikah dengan Ketua Dewan Pimpinan Kota (DPK) Gafatar wilayah Kota Kendari.

    "Suaminya, Burhan Faiqal, adalah Ketua DPK Gafatar wilayah Kendari. Istrinya, Andi Muliani, bendahara," tuturnya.

    Hingga saat ini, keberadaan Andi Muliani bersama seorang anak dan suaminya tidak diketahui lagi. Dia akhirnya memutuskan untuk melapor ke Kepolisian Resor Luwu, dan berharap adiknya bisa kembali.

    Kepala Satuan Intelijen dan Keamanan Polres Luwu Ajun Komisaris Hafiuddin mengatakan keberadaan Burhan Faiqal bersama anak dan istrinya sedang dilacak. Selain Burhan, ada seorang warga Luwu yang menghilang.

    "Belum berani kami menyimpulkan bahwa kelompok ini berkaitan dengan gerakan Islam garis keras. Kami masih dalami," kata Hafiuddin.

    HASWADI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aturan Skuter Listrik Pasca Insiden GrabWheels Belum Ada Rujukan

    Pemerintah Provinsi DKI berencana mengeluarkan aturan soal skuter listrik setelah insiden dua pengguna layanan GrabWheels tewas tertabrak.