Isu Risma Vs Ahok, Gerindra Minta Risma Tak Khianati Pemilih

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Calon Walikota Surabaya no urut 2 Tri Rismaharini menunjukkan surat suara usai mencoblos pada Pilkada serentak di TPS 1 Taman Pondok Indah, Kelurahan Jajar Tunggal, Wiyung, Surabaya, 9 Desember 2015. TEMPO/Aris Novia Hidayat

    Calon Walikota Surabaya no urut 2 Tri Rismaharini menunjukkan surat suara usai mencoblos pada Pilkada serentak di TPS 1 Taman Pondok Indah, Kelurahan Jajar Tunggal, Wiyung, Surabaya, 9 Desember 2015. TEMPO/Aris Novia Hidayat

    TEMPO.CO, Surabaya - Rencana Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan mencalonkan Wali Kota Surabaya terpilih, Tri Rismaharini, untuk menjadi Gubernur DKI Jakarta bersaing dengan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok kian kuat. Sekretaris Jenderal PDIP telah mengungkapkan hal tersebut.

    Bila Risma bersedia maju di Jakarta, politikus Surabaya menganggap Risma hanya main-main dalam pemilihan kepala daerah Desember lalu. “Saya tidak terkejut karena rencana itu sudah diskenario sejak lama,” kata politikus Partai Gerindra Kota Surabaya, A.H. Tony, yang menjadi Ketua Kelompok Kerja Koalisi Majapahit, Jumat, 8 Januari 2016.

    Koalisi Majapahit, yang terdiri atas Gerindra, Partai Demokrat, Partai Amanat Nasional, Partai Kebangkitan Bangsa, Partai Golkar, dan Partai Keadilan Sejahtera, berseberangan dengan Risma pada pilkada lalu. Namun, karena banyaknya tarik ulur kepentingan politik, akhirnya koalisi tersebut batal mengusung pasangan calon dan hanya menjadi penonton.

    Menurut Tony, jika Risma tergoda ikut pemilihan Gubernur DKI, masyarakat Surabaya, khususnya yang telah mencoblos Risma, pasti kecewa. “Bahkan, saya khawatir apabila itu benar terjadi, berarti Pilkada Surabaya tanpa makna, hanya main-main."

    Tony curiga PDI Perjuangan hanya memanfaatkan popularitas Risma untuk meraih kemenangan di Surabaya saja, tanpa menghiraukan harapan masyarakat terhadap janji-janji wali kota inkumben tersebut. “Sekali lagi, hal ini sudah bisa ditebak,” ujarnya.

    Tony meminta Risma untuk berpikir panjang terhadap proses politik pilkada Surabaya yang berjalan alot dan nyaris hanya ada calon tunggal.

    Risma juga diminta menimbang, mana kepentingan rakyat yang lebih utama sehingga apa pun langkahnya nanti bisa lebih baik. “Iya kalau menang. Kalau kalah malah akan menjadi preseden buruk bagi dia dan partai pengusungnya."



    MOHAMMAD SYARAFAH


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.