Polisi Sebut Terduga Teroris di Mojokerto Seorang Petinggi  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tim Densus 88 Anti Teror menggeledah rumah kontrakan salah satu terduga teroris di Desa Mlaten, Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto, Ahad sore, 20 Desember 2015. TEMPO/ISHOMUDDIN

    Tim Densus 88 Anti Teror menggeledah rumah kontrakan salah satu terduga teroris di Desa Mlaten, Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto, Ahad sore, 20 Desember 2015. TEMPO/ISHOMUDDIN

    TEMPO.COJakarta - Kepala Divisi Humas Polri Inspektur Jenderal Anton Charliyan mengatakan tiga tersangka teroris yang ditangkap di Mojokerto diduga sebagai petinggi kelompok teroris di Indonesia. "Bisa dibilang begitu," kata Anton saat dihubungi, Kamis, 24 Desember 2015. Polisi saat ini masih memeriksa tiga orang itu untuk memastikan peranan masing-masing. "Yang pasti merupakan jaringan lama."

    Tiga terduga teroris yang ditangkap di Mojokerto itu adalah Choirul Anam alias Bravo alias Kartolo, Indra Idam Wijaya alias Imran, dan Teguh alias Basuki. Mereka dibekuk pada 19 Desember 2015.

    Dari hasil pemeriksaan diketahui bahwa mereka merupakan tokoh sentral dalam kelompok teroris yang ada di Indonesia saat ini. Choirul Anam alias Bravo disebut-sebut sebagai salah satu pucuk pimpinan dalam jaringan terorisme itu. Sedangkan Teguh dan Indra dianggap sebagai rekrutan terbaik dari Choirul. Mereka berperan merangkai bom dan senjata, serta menjadi orang yang bertugas pada bidang IT dalam jaringan itu.

    Diketahui pula bahwa mereka hendak melakukan penyerangan di Mabes Polri, Polda Metro Jaya, Mabes TNI, dan beberapa gereja di Indonesia saat perayaan Natal dan tahun baru. Dari informasi yang Tempo dapatkan, perencanaan yang dilakukan kelompok ini sudah rampung dan tinggal tahap eksekusi. Bahkan "calon pengantin" atau pelaku bom bunuh diri pun telah mereka siapkan.

    DIKO OKTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tito Karnavian Anggap OTT Kepala Daerah Bukan Prestasi Hebat

    Tito Karnavian berkata bahwa tak sulit meringkus kepala daerah melalui OTT yang dilakukan Komisi Pemerantasan Korupsi. Wakil Ketua KPK bereaksi.