Ini Bencana Paling Mematikan di Indonesia 2014-2015  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi longsor. TEMPO/Aris Novia Hidayat

    Ilustrasi longsor. TEMPO/Aris Novia Hidayat

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengatakan longsor merupakan bencana yang paling mematikan selama 2014-2015. "Longsor adalah jenis bencana yang paling mematikan selama 2014 dan 2015 dibandingkan dengan jenis bencana lain," ujar Sutopo dalam rilisnya kepada Tempo, Sabtu, 19 Desember 2015.

    Laporan Akhir Tahun 2014 BNPB menyebutkan terjadi 1.475 bencana pada tahun tersebut. Angka itu lebih kecil daripada jumlah bencana pada 2013 yang sebanyak 1.674. Sedangkan pada 2012 terjadi 1.811 bencana, dan pada 2011 terdapat 1.633 bencana. "Secara keseluruhan, banjir, puting beliung, dan longsor adalah bencana yang paling tren sejak 2005 hingga 2014," kata Sekretaris Umum BNPB Dody Ruswandi, Rabu, 31 Desember 2014.

    Angka 1.475 bencana pada 2014 termasuk tanah longsor yang terjadi 413 kali. Tanah longsor menempati peringkat ketiga sebagai bencana yang paling sering terjadi di Indonesia setelah puting beliung (296 kali) dan banjir (458 kali). Sisanya, terdapat bencana kebakaran lahan dan hutan yang terjadi 35 kali serta banjir dan tanah longsor secara berbarengan yang terjadi 33 kali.

    Sutopo menambahkan, ada 41 juta jiwa masyarakat yang tinggal di daerah rawan longsor. Dan seluruhnya tersebar di 174 kabupaten/kota. “Mereka tinggal di lereng perbukitan dan pegunungan, tebing sungai dengan mitigasi yang masih minim, baik struktural dan nonstruktural,” ujar Sutopo.

    Menurut Sutopo, tata ruang berbasis longsor sangat berperan dalam mereduksi longsor. Tata ruang tersebut harus diimplementasikan secara nyata. “Masyarakat juga ditingkatkan kapasitas dan kemampuannya untuk memitigasi lingkungan sekitarnya,” ujarnya.

    ARIEF HIDAYAT


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jejak Ahok, dari DPRD Belitung hingga Gubernur DKI Jakarta

    Karier Ahok bersinar lagi. Meski tidak menduduki jabatan eksekutif, ia akan menempati posisi strategis: komisaris utama Pertamina.