Rusuh Tambang Emas Banyuwangi, Polisi Bantah Berpihak  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gunung Tumpang Pitu dari Pantai Pancer, Pesanggaran. Gunung setinggi 450 mdpl itu yang menjadi lokasi tambang emas PT Bumi Suksesindo. TEMPO/Ika Ningtyas

    Gunung Tumpang Pitu dari Pantai Pancer, Pesanggaran. Gunung setinggi 450 mdpl itu yang menjadi lokasi tambang emas PT Bumi Suksesindo. TEMPO/Ika Ningtyas

    TEMPO.CO, Banyuwangi - Kepala Kepolisian Resor Banyuwangi, Jawa Timur, Ajun Komisaris Besar Bastoni Purnama membantah terlalu berpihak kepada perusahaan tambang, PT Bumi Suksesindo. Menurut dia, sebelum kerusuhan meletus, Polres berulang kali mengupayakan mediasi warga dengan PT BSI dan pemerintah daerah. “Mulai tingkat Polsek hingga Polres sebelumnya sudah banyak berdialog dengan warga,” kata Kapolres Bastoni kepada Tempo, Rabu, 2 Desember 2015.

    Kapolres Bastoni mengatakan telah mengamankannya karena PT BSI sudah mengantongi Izin Usaha Pertambangan Operasi Produksi (IUP OP). Karenanya, infrastruktur milik PT BSI tergolong aset nasional.

    Polres Banyuwangi tidak akan menarik personel di lokasi tambang emas itu hingga situasi benar-benar kondusif, termasuk tidak akan menghentikan proses hukum terhadap warga yang terlibat kerusuhan di lokasi tambang pada Rabu, 25 November 2015.

    Bastoni berkeyakinan, proses hukum hanya berdampak pada sebagian warga Kecamatan Pesanggaran yang terlibat aksi anarkistis. Sedangkan sebagian besar warga lainnya hingga saat ini masih bisa beraktivitas seperti biasanya. “Kan tidak semua warga Pesanggaran ikut merusak.”

    Sebelumnya, Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), menilai Kepolisian Resor Banyuwangi, Jawa Timur, terlalu berpihak pada perusahaan tambang. “Polres kehilangan fungsinya sebagai pelindung masyarakat,” kata Wakil Kordinator Bidang Strategi dan Mobilisasi KontraS, Puri Kencana Putri, saat dihubungi Tempo, Rabu, 2 Desember 2015.

    KontraS telah menerima pengaduan resmi dari warga sekitar tambang, Dusun Pancer, Desa Sumberagung, pada Senin, 30 November 2015. Bahkan delapan warga pelapor saat ini bertahan di kantor KontraS di Jakarta karena khawatir ditangkap polisi. Sebelumnya, pada Sabtu, 28 November, Polda Jatim menangkap dan menetapkan dua warga sebagai tersangka perusakan infrastruktur tambang emas milik PT Bumi Suksesindo.

    Keberpihakan Polres, kata Puri, terlihat dari ucapan Kepala Polres Banyuwangi Ajun Komisaris Besar Bastoni Purnama yang akhirnya memicu kemarahan warga sekitar tambang. Setelah itu, Polres menurunkan pasukan bersenjata untuk menghadapi warga. Saat ini pun Polres bersama Polda Jatim berupaya mengkriminalisasi warga yang terlibat kerusuhan. “Warga justru takut pada polisi. Ini menunjukkan polisi makin berjarak dengan masyarakat.”

    Pada 25 November 2015, ribuan warga menyerbu perkantoran dan lokasi tambang PT Bumi Suksesindo di Desa Sumberagung. Massa merusak dan membakar hampir seluruh infrastruktur tambang. Kerusuhan ini berbuntut bentrok antara warga dan aparat keamanan. Sedikitnya, empat warga terkena tembak dan dua polisi mengalami luka berat.



    IKA NINGTYAS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wiranto Ditusuk Seseorang yang Diduga Terpapar Radikalisme ISIS

    Menkopolhukam, Wiranto ditusuk oleh orang tak dikenal yang diduga terpapar paham radikalisme ISIS. Bagaimana latar belakang pelakunya?