Di Konferensi Internasional, Bima Arya Pamer Toleransi Agama

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto meninggalkan kantor KPK usai melaporkan harta kekayaannya di Jakarta, 14 Juli 2014. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto meninggalkan kantor KPK usai melaporkan harta kekayaannya di Jakarta, 14 Juli 2014. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    TEMPO.CO, Jakarta - Walikota Bogor Bima Arya menghadiri Konferensi Unity in Diversity di Florence Italy, Florence, Itali, hari ini, 6 November 2015. Konferensi ini dihadiri sekitar 100 walikota dari seluruh dunia yang berbagi pengalaman mengenai pengelolaan konflik dan menjaga keberagaman dan persatuan. Bima berpidato tentang keberhasilan pemerintah kota menjaga kerukunan dan kedamaian umat beragama di Bogor.

    Di dalam pidatonya, Bima mengaku penuh bangga Bogor adalah kota yang tidak pernah menghadapi konflik sosial serius yang mengancam persatuan warganya. "Saya memang baru bertugas sebagai walikota selama 1,5 tahun. Namun keluarga saya selama lima generasi menjadi bagian dari tradisi kota ini yang hidup berdampingan secara damai dari masa ke masa apapun suku dan agamanya," ujarnya, Jumat, 6 November 2015.

    Bima mengaku bertanggungjawab untuk menjaganya usia kerukunan antar umat beragama di Bogor yang sangat panjang. Dia menyadari potensi konflik atas nama agama selalu ada. Setetes darah akibat konflik agama, kata dia, bakal menjadi mimpi buruk bagi benak warga seumur hidup.

    "Adalah tugas saya untuk mengantisipasi konflik terjadi, baik melalui proses dialog maupun pendekatan keamanan. sejarah panjang kerukunan akan ternoda apabila ada darah menetes akibat konflik agama," kata Bima.

    Pernyataan Bima tidak tercermin dengan kondisi kebebasan umat beragama di Kota Bogor. Bima, misalnya, melarang warga Bogor merayakan peringatan ‘Asyura’ yang biasa diperingati pemeluk mazhab Syiah. Larangan tertuang dalam Surat Edaran Nomor: 300/1321- Kesbanggpol, tentang Himbauan pelaranganperayaan asyura di Kota Bogor.

    Surat edaran pelarangan perayaan asura tersebut, dikeluarkan secara resmi dan ditandatangani langsung oleh Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto, pada tanggal 22 Oktober 2015. Larangan itu dikeluarkan dengan tujuan menjaga stabilitas keamanan dan ketertiban di Kota Bogor.

    Selain itu, isu toleransi beragama juga dihadapi jemaat Gereja Keristen Indonesia (GKI) Yasmin. Pasalnya, pembangunan rumah ibadah Gereja Kristen Indonesia Yasmin di Jalan Raya KH. Muhammad Nuh, Kota Bogor masih dalam sengketa. Akhir tahun lalu, puluhan jemaat Yasmin sempat protes tak bisa beribadah di dalam gereja karena disegel.

    ALI HIDAYAT

    Ini Kata Ahok Soal Kasus Rumah Denny yang DihadangTembok
    Duh, Bripda Indra Pukul Siswa & Hunus Sangkur di Depan Guru


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rincian Pasal-Pasal yang Diduga Bermasalah di Revisi UU KPK

    Banyak pasal dalam perubahan kedua Undang-Undang Komisi Pemberantasan Korupsi, atau Revisi UU KPK, yang disahkan DPR, berpotensi melemahkan KPK.