Rumah Singgah Korban Asap di Sumatera Selatan Masih Kosong  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kabut pekat kekuningan menyelimuti Tugu Titik Nol di kota Pekanbaru, Riau, 23 Oktober 2015. Asap yang semakin pekat berwarna kekuningan menyelimuti Pekanbaru. TEMPO/Riyan Nofitra

    Kabut pekat kekuningan menyelimuti Tugu Titik Nol di kota Pekanbaru, Riau, 23 Oktober 2015. Asap yang semakin pekat berwarna kekuningan menyelimuti Pekanbaru. TEMPO/Riyan Nofitra

    TEMPO.CO, Jakarta - Dua rumah singgah yang disediakan oleh Pemerintah Sumatera Selatan untuk menampung korban asap, hingga saat ini masih kosong. Kepala Tim Medis Posko Panti Sosial Nurbaiti mengatakan dua tempat, yakni Panti Sosial Bina Daksa dan Asrama Haji Palembang, belum menerima korban asap.

    "Sampai siang ini, kami belum menerima korban asap," kata Nurbaiti, Selasa, 27 Oktober 2015. Menurut dia, rumah singgah itu akan menerima korban asap dari Kabupaten Ogan Komering Ilir, Ogan Ilir, dan Musi Banyuasin.

    Nurbaiti mengatakan timnya saat ini sudah menyiapkan satu dokter, dua paramedis, dan satu sopir, serta ambulans dan obat-obat pendukung. Dari pantauan Tempo, rumah singgah tersebut berdiri di atas lahan milik panti sosial berupa ruangan tanpa sekat.

    Dalam rumah itu, sudah disediakan 30 velbed dan kasur busa. Tempat tidur itu disiapkan untuk memeriksa kesehatan korban,  juga tempat istirahat pasien. Selain itu, sudah tersedia kipas angin besar. Menurut Nurbaiti, dalam ruangan itu juga disiapkan tempat untuk memeriksa pasien menggunakan tirai pembatas.

    Belman Karmuda, Kepala Dinas Sosial Sumatera Selatan, mengatakan rumah singgah ini akan menampung korban asap dari kalangan balita, anak-anak, dan lanjut usia. Rumah singgah juga akan dilengkapi psikolog dan pendamping. "Psikolog sosial untuk memulihkan trauma pasien," ujar Belman.



    PARLIZA HENDRAWAN

     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sebab dan Pencegahan Kasus Antraks Merebak Kembali di Gunungkidul

    Kasus antraks kembali terjadi di Kabupaten Gunungkidul, DI Yogyakarta. Mengapa antraks kembali menjangkiti sapi ternak di dataran tinggi tersebut?