Kabut Asap Semakin Pekat, Warga Palangkaraya Mulai Mengungsi  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kabut asap yang menyelimuti Palangkaraya, Kalimantan Tengah, 16 Oktober 2015. TEMPO/Uwidyanto

    Kabut asap yang menyelimuti Palangkaraya, Kalimantan Tengah, 16 Oktober 2015. TEMPO/Uwidyanto

    TEMPO.CO, Palangkaraya - Kabut asap di Kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah, semakin pekat. Jarak pandang hanya mencapai 20-30 meter. Indeks standar pencemaran udara (ISPU) pada Selasa, 20 Oktober 2015, mencapai 425, yang artinya berbahaya. Sedangkan particulate matter (PM) 10, yang berarti jumlah partikel debu mengambang di bawah 10 mikron mencapai 3.700/mg/m3. Kondisi ini membuat masyarakat panik sehingga mengungsikan anak-anaknya ke provinsi terdekat, Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

    Andi Mesra, 42 tahun, seorang ibu rumah tangga yang tinggal di Jalan R.T.A. Milono, Palangkaraya, mengatakan terpaksa mengungsikan kembali kedua buah hatinya yang masih duduk di sekolah dasar ke Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Andi khawatir asap itu akan membahayakan kesehatan anak-anaknya.

    "Kami terpaksa harus kembali mengungsi ke rumah orang tua di Banjarmasin. Sebab, kalau dipaksakan terus di Palangkaraya dengan menghirup asap yang sangat tidak sehat, akan membahayakan kesehatan," ujar Andi.

    Apalagi, menurut Andi, saat ini sekolah diliburkan oleh pemerintah hingga dua pekan mendatang. Meski libur, Andi tetap membekali anaknya dengan buku-buku pelajaran. “Saya tidak mau anak-anak ketinggalan pelajaran hanya karena harus tidak sekolah,” tutur Andi.

    Romo Andreas Tri Adi Kurniawan, Koordinator Keuskupan Palangkaraya, mengatakan pihaknya juga telah meminta kepada anggotanya untuk membantu para orang tua yang akan mengungsikan anak-anak mereka keluar dari Palangkaraya. "Sudah ada beberapa keluarga di Palangkaraya, Pulang Pisau, yang mengungsi ke Banjarmasin," ucap Andreas, yang sedang menggelar aksi pengumpulan koin untuk kabut asap. Dia menambahkan, jumlah ini akan terus meningkat mengingat kondisi kabut asap semakin pekat.

    Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Bandara Cilik Riwut Kalimantan Tengah menyebutkan pekatnya kabut asap ini sudah terjadi selama dua hari (20-21 Oktober 2015), yang terburuk selama bencana kabut asap di Kalimantan Tengah. Jumlah titik panas mencapai 188.

    KARANA W.W.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tips Menghadapi Bisa Ular dengan Menggunakan SABU

    Untuk mengatasi bisa ular, dokter Tri Maharani memaparkan bahwa bisa ular adalah protein yang hanya bisa ditawar dengan SABU polivalen.