Kabut Asap, Pesawat Pemadam dari Rusia Tiba di Palembang  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Be-200 dikembangkan dan dirancang oleh Georgiy Mikhailovich Beriev, ia merancang sejumlah pesawat amfibi Uni Soviet di Taganrog. Meneruskan perjuangan Beriev, Aleksandr Yavkin, mulai mengembangkan Be-200 pada tahun 1990. Pesawat ini memang didesain untuk dapat membawa sejumlah air, yang dapat digunakan memadamkan kebakaran hutan selain kemampuan patroli maritim. suggestkeyword.com

    Be-200 dikembangkan dan dirancang oleh Georgiy Mikhailovich Beriev, ia merancang sejumlah pesawat amfibi Uni Soviet di Taganrog. Meneruskan perjuangan Beriev, Aleksandr Yavkin, mulai mengembangkan Be-200 pada tahun 1990. Pesawat ini memang didesain untuk dapat membawa sejumlah air, yang dapat digunakan memadamkan kebakaran hutan selain kemampuan patroli maritim. suggestkeyword.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Dua pesawat terbang amfibi sewa asal Rusia, Beriev Be-200, telah tiba di Palembang pada pukul 10.55 WIB, Rabu, 21 Oktober 2015. Pesawat itu akan digunakan untuk memadamkan kebakaran lahan dan hutan di Sumatera Selatan.

    Pesawat terbang amfibi mendarat di lapangan udara terminal kargo Bandar Udara Sultan Mahmud Badaruddin, Palembang, berserta 20 personel asal Rusia.

    Pada pemerintahan Presiden Susilo Yudhoyono, dua Be-200 ini pernah disewa untuk operasi serupa dengan nilai kontrak hingga US$ 5,4 juta selama beberapa bulan. Be-200 juga sempat ditawarkan kepada Indonesia agar dibeli saja.

    Salah satu keistimewaan pesawat dengan dua mesin jet di atas sayapnya ini adalah bisa langsung menyerok belasan ton air tanpa mendarat, tapi cukup terbang sejajar dengan air.

    Komandan Pangkalan Udara TNI AU Palembang Letnan Kolonel Penerbang MRY Fahlefie mengatakan pesawat amfibi ini mendarat di Palembang untuk berkoordinasi terkait dengan persiapan operasi pemadaman air dari udara di Selat Malaka.

    "Nanti pesawat amfibi ini akan mengambil air di Selat Malaka, sehingga akan disiagakan di Bandara Pangkalpinang," ucap Fahlefie.

    Fahlefie berujar, pesawat tersebut ditempatkan di Pangkalpinang karena kawasan itu tidak terkendala jarak pandang.

    "Kalau yang sudah-sudah, selalu terkendala kabut asap. Jadi lebih baik di Pangkalpinang saja. Sayang, pesawat baru mulai operasi pada siang hari. Sedangkan kemampuan terbangnya hingga delapan kali dengan kapasitas sekali angkut 12 ribu liter air," tutur Fahlefie.

    ANTARA



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tahun-Tahun Indonesia Juara Umum SEA Games

    Indonesia menjadi juara umum pada keikutsertaannya yang pertama di SEA Games 1977 di Malaysia. Belakangan, perolehan medali Indonesia merosot.