Kucing Hutan: Meong Congkok yang Ramai di Media Sosial  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Halaman akun Facebook Achmad Yusuf asal Banyuwangi yang mengunggah gambar perlakuan sadisnya terhadap dua kucing hutan. Foto ini diunggah pada Rabu 14 Oktober 2015. Facebook.com

    Halaman akun Facebook Achmad Yusuf asal Banyuwangi yang mengunggah gambar perlakuan sadisnya terhadap dua kucing hutan. Foto ini diunggah pada Rabu 14 Oktober 2015. Facebook.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Ida Tri Susanti, mahasiswi jurusan matematika Fakultas MIPA Universitas Jember, harus berurusan dengan polisi setelah memamerkan foto kucing hutan dalam kondisi terikat tali di Facebook-nya.  

    Ida terancam hukuman penjara maksimal 5 tahun karena ada larangan berburu dan memperdagangkan kucing hutan. Kabarnya, satwa ini diperoleh Ida dari hasil buruan di Hutan Gumuk Topi.  

    "Kami akan mendatangi Hutan Gumuk Topi di  Kabupaten Jember," kata Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Wilayah III Sunandar Trigunajasa pada Senin, 19 Oktober 2015.

    Selain Ida, sejumlah orang memamerkan perlakuan sadisnya terhadap kucing hutan. Nama latin satwa ini adalah Felis bengalensis. Persebaran kucing hutan membentang dari Asia Tengah, yakni di Afganistan dan Pakistan, lalu Asia Tenggara hingga Asia Timur, di Korea dan Cina.

    Animaldiversity.org mencatat kucing hutan tersebar di Sumatera, Jawa, Bali, dan  Kalimantan.  Orang Jawa menyebutnya blacan, sedangkan orang Sunda memanggilnya meong congkok.

    Bentuk kucing hutan hampir sama dengan kucing yang sering dipelihara orang. Kebanyakan kucing hutan, yang bulunya berwarna cokelat, memiliki berat badan antara 3 sampai 7 kg.

    Badan dan ekor bercorak, seperti mawar, dan ekor berbentuk cincin. Panjang kucing hutan berkisar 44,5-107 cm, dan ekor mereka berkisar 23-44 cm.

    Corak warna kucing hutan berbeda di sebagian daerah. Pada habitat bersalju, kucing memiliki bulu lebih ringan dibanding dengan yang hidup di hutan. Corak lebih gelap banyak ditemukan pada kucing yang hidup di hutan.

    Satwa ini hidup di hutan dengan iklim tropis dan subtropis, hutan konifer (pohon berbentuk jarum seperti cemara dan pinus), habitat semak, dan padang rumput. Tempat paling tinggi yang dapat ditinggali Felis bengalensis ini sampai 3.000 meter.

    Kucing hutan mempunyai rentang waktu masa kehamilan 65 sampai 72 hari. Januari sampai Maret memasuki masa melahirkan. Setelah melahirkan, musim kawin berlangsung cepat, yakni hanya empat bulan setelah melahirkan.

    Cepatnya perkembangbiakan satwa ini ditunjang tersedianya pasokan makanan. Hewan ini memangsa vertebrata darat kecil, seperti tikus dan kadal. Tapi, hewan lain pun jadi makanannya, seperti kelelawar, ular, dan ayam.



    EVAN | PDAT | ANIMALDIVERSITY



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tahun-Tahun Indonesia Juara Umum SEA Games

    Indonesia menjadi juara umum pada keikutsertaannya yang pertama di SEA Games 1977 di Malaysia. Belakangan, perolehan medali Indonesia merosot.