Bunga Bangkai Penangkaran Warga Bengkulu Berhasil Mekar  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bunga bangkai atau Rafflesia. TEMPO/ Gunawan Wicaksono

    Bunga bangkai atau Rafflesia. TEMPO/ Gunawan Wicaksono

    TEMPO.CO, Bengkulu - Sekuntum bunga bangkai (Amorphophallus titanum), atau dalam bahasa setempat disebut bunga kibut, hasil penangkaran warga Desa Tebat Monok, Kecamatan Kepahiang, Kabupaten Kepahiang, Bengkulu, berhasil mekar sempurna.

    "Bunga bangkai yang kami tanam berhasil mekar dan masih bisa dinikmati keunikannya sampai hari ini," kata Holidin, penangkar bunga langka tersebut, di Kepahiang, Minggu, 18 Oktober 2015.

    Ia mengatakan tinggi bunga yang mengeluarkan bau busuk itu mencapai 160 sentimeter. Ukuran itu, menurut Holidin, tergolong pendek karena pada umumnya bisa mencapai 2-3 meter. "Kami perkirakan karena sedang musim kemarau jadi tinggi bunga juga menyusut," ucapnya.

    Holidin membuka lokasi penangkaran itu untuk masyarakat umum. Keunikan bunga bangkai dengan kelopak berwarna merah-ungu itu dapat dinikmati pengunjung. Lokasi penangkaran milik keluarga tersebut berada di jalan lintas yang menghubungkan Kota Bengkulu dengan Kabupaten Kepahiang.

    Setelah memarkirkan kendaraan di pinggir jalan, pengunjung hanya butuh waktu lima menit untuk berjalan ke dalam kebun penangkaran. "Kami tidak memungut retribusi, tapi menerima sumbangan sukarela dari pengunjung," ujarnya.

    Holidin telah menangkar empat jenis bunga bangkai di lokasi yang berbatasan dengan Hutan Lindung Bukit Daun itu. Selain jenis Amorphophallus titanum, ia juga menangkar jenis Amorphophallus gigas, Amorphophallus variabilis, dan Amorphophallus paenifolius.

    Perbedaan empat jenis ini sangat kontras, termasuk jenis gigas dengan titanum yang sudah sering mekar di lokasi penangkaran milik keluarganya itu. "Jenis gigas biasanya paling tinggi dibanding tiga jenis lainnya dan lebih lama mekar, hingga empat hari," tuturnya.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Polusi Udara Pembunuh Diam-diam

    Perubahan iklim dan pencemaran udara menyebabkan lebih dari 12,6 juta kematian per tahun. Jumlah korban jiwa ini belum pernah terjadi sebelumnya.