Sudah Sepekan, Nasib 4 Jemaah Haji Lamongan Belum Diketahui

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tenda-tenda jemaah haji di Mina, Arab Saudi, Mei 2013. TEMPO/Gunawan Wicaksono

    Tenda-tenda jemaah haji di Mina, Arab Saudi, Mei 2013. TEMPO/Gunawan Wicaksono

    TEMPO.CO, Lamongan - Kelompok Bimbingan Ibadah Haji Kabupaten Lamongan belum mengetahui nasib empat jemaahnya yang hilang kontak sejak Kamis pekan lalu. Foto maupun nama-nama empat jemaah tersebut tidak termasuk dalam 57 korban tragedi Mina yang meninggal dunia.

    Empat jemaah haji itu atas nama Rukmiati binti Sanusi dan Mat Syafii Bin Samijo, pasangan suami-istri asal Desa Guyangan, Kecamatan Sugio, serta Juri Ama Bin Makri dan Wati Binti Ibrahim, pasangan suami-istri asal Desa Sumberaji, Kecamatan Sukodadi.

    Mereka tergabung di kelompok terbang 28 yang merupakan gabungan jemaah asal Lamongan, Surabaya, dan Mojokerto. Jumlah jemaah haji asal Lamongan sendiri sebanyak 1.409 orang.

    Menurut Kepala Seksi Haji dan Umrah Kantor Kementerian Agama Lamongan Sunhaji, mengatakan para petugas kloter dan pimpinan regu masih berupaya keras melacak keberadaan empat jemaah tersebut.

    Di antaranya dengan mengecek nama-nama dan foto korban meninggal di pusat informasi haji. Selain itu, komandan regu haji Lamongan, Arif, kebetulan masih terhitung kemenakan dari salah satu dari empat jemaah itu. “Jadi dia aktif mencari,” kata Sunhaji, Kamis, 1 Oktober 2015.

    Selain empat jemaah yang belum ada kabarnya, empat jemaah lainnya meninggal dunia karena sakit. Mereka adalah Suparman asal Kecamatan Sukodadi, Tuni Gabus asal Kecamatan Turi, Supriyadi asal Kecamatan Sambeng, dan Siti Tasmuah asal Kecamatan Kedungpring. Keempatnya telah dimakamkan di Mekah.

    Juru bicara Pemerintah Kabupaten Lamongan, Sugeng Widodo, mengatakan jemaah asal Lamongan dijadwalkan kembali ke Tanah Air pada 10 dan 11 Oktober 2015 melalui Bandara Juanda, Surabaya. "Kemungkinan pulang tanggal itu," katanya.

    SUJATMIKO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    UMP 2020 Naik 8,51 Persen, Upah Minimum DKI Jakarta Tertinggi

    Kementerian Ketenagakerjaan mengumumkan kenaikan UMP 2020 sebesar 8,51 persen. Provinsi DKI Jakarta memiliki upah minimum provinsi tertinggi.