Soal Kunjungi Donald Trump, Fahri Hamzah Bela Fadli Zon

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Fahri Hamzah. TEMPO/Imam Sukamto

    Fahri Hamzah. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Fahri Hamzah meminta masyarakat menilai positif kunjungan Setya Novanto dan Fadli Zon ke Amerika Serikat. Fahri menyayangkan tindakan laporan dugaan pelanggaran kode etik yang dilakukan sejumlah anggota DPR ke Mahkamah Kehormatan Dewan pada Senin lalu.

    "Tolonglah kita melihat ini secara positif. Dan tidak layak anggota DPR itu saling melaporkan, itu tidak bagus. Anggota DPR itu dilaporkan kalau dia diserang. Kalau dia menempeleng (bisa dipersoalkan), tapi untuk opini publik tidak boleh," ujar Fahri saat ditemui di Kompleks Parlemen Senayan, Jumat, 11 September 2015.

    Politikus Partai Keadilan Sejahtera ini menyebut kehebohan publik yang terjadi karena kemunculan Setya Novanto dan Fadli Zon dalam kampanye Donald Trump merupakan hal yang berlebihan dan tidak seharusnya diperdebatkan.

    "Dia (Donald Trump) kan belum jadi calon, dia baru konvensi Partai Demokrat dan Republik. Setelah itu masuk TV, disorot, menurut saya itu luar biasa. Karena itu juga berefek kepada orang mengenal Indonesia dan itulah kultur egaliter. Orang di Amerika itu biasa. Kita pakai kultur agak global dikit dong, jangan main tersinggung-tersinggungan begitu," ujar Fahri.

    Sejumlah politikus dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan dan Partai Kebangkitan Bangsa telah melaporkan Setya Novanto dan Fadli Zon ke Mahkamah Kehormatan DPR.

    Dalam laporan, politikus Golkar dan Gerindra tersebut dinilai melanggar kode etik terkait kemunculan Setya Novanto dan Fadli Zon dalam pengambilan sumpah kesetiaan dan kampanye Donald Trump pada Partai Republik Amerika Serikat. Kemunculan pimpinan DPR RI itu tidak masuk dalam agenda kunjungan anggota DPR ke Amerika Serikat.

    DESTRIANITA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tommy Soeharto dan Prabowo, Dari Cendana Sampai ke Pemerintahan

    Tommy Soeharto menerima saat Prabowo Subianto masuk dalam pemerintahan. Sebelumnya, mereka berkoalisi menghadapi Jokowi - Ma'ruf dalam Pilpres 2019.