Embun Ini Merusak Ratusan Hektar Tanaman Kentang  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sekitar 200 hektare lahan kentang di dataran tinggi Dieng mati akibat embun upas yang terjadi saat puncak musim kemarau, 14 Agustus 2015. TEMPO/Aris Andrianto

    Sekitar 200 hektare lahan kentang di dataran tinggi Dieng mati akibat embun upas yang terjadi saat puncak musim kemarau, 14 Agustus 2015. TEMPO/Aris Andrianto

    TEMPO.CO, Banjarnegara - Embun upas yang terjadi saat puncak musim kemarau merusak 200 hektare tanaman kentang di Dataran Tinggi Dieng, Jawa Tengah. Embun upas muncul saat suhu udara di bawah nol derajat celcius. Embun pagi pun mengkristal menjadi butiran es.

    “Saat ini sudah sekitar 200 hektare lahan kentang yang mati karena serangan embun upas,” kata Saroji, 54 tahun, petani kentang asal Desa Dieng Kulon Kecamatan Batur Banjarnegara, Jumat 14 Agustus 2015.

    Ia mengatakan, petani mengalami kerugian akibat embun upas itu. Tiap  hektare petani sudah mengeluarkan ongkos produksi sekitar Rp 15 juta bahkan lebih. Sehingga, uang tersebut tidak mungkin kembali setelah tanaman kentangnya mati.

    Menurut dia, embun upas sudah mulai turun sejak awal Agustus lalu hingga sekarang menyebabkan banyak tanaman kentang yang mati seperti terbakar. "Embun upas tidak turun setiap hari. Tapi memasuki bulan Agustus sekarang kerap turun. Tanaman kentang yang terkena embun upas seperti terbakar, daunnya mengering akibat embun upas tersebut," ujarnya.

    Petani lain, Solimin, 45 tahun, mengatakan petani tidak dapat mengantisipasi datangnya embun upas. Meskipun petani sudah menutup lahan kentang dengan kain kasa dan plastik tapi tanaman kentang tetap saja terkena embun upas.

    Tingkat kerusakan tanaman kentang tersebut berkisar antara 60-80 persen sehingga mengharuskan para petani memanen dini jika tidak ingin tanaman kentangnya makin rusak. Wilayah yang terkena embun upas biasanya merupakan daerah lembah. "Biasanya umur panen kentang sekitar 4 bulan, tapi karena adanya embun upas, maka baru memasuki usia 3 bulan, sudah kami panen,” ujar Solimin.

    Hasilnya juga tidak maksimal. Dalam satu hektare paling hanya panen hingga 5 ton saja. Padahal, biasanya mampu mencapai kisaran 15 ton. “Mau bagaimana lagi, petani mengalami kerugian akibat dilanda embun upas tersebut," katanya.

    Wakil Bupati Banjarnegara, Hadi Supeno mengatakan, fenomena embun upas memang hanya terjadi saat musim kemarau. “Saya sarankan petani menanam komoditas lain selain kentang yang lebih tahan embun upas,” katanya.

    ARIS ANDRIANTO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.