Mudik Lebaran, Korban Kecelakaan Diklaim Turun 11 Persen  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kendaraan pemudik melintas Cimalaka, Sumedang, Jawa Barat, saat pemberlakuan satu arah, pada H-1 Lebaran, Kamis, 16 Juli 2015. Arus mudik jalur tengah Sumedang Cirebon semakin padat oleh arus kendaraan menuju Majalengka, Cirebon, dan Pantura. TEMPO/Prima Mulia

    Kendaraan pemudik melintas Cimalaka, Sumedang, Jawa Barat, saat pemberlakuan satu arah, pada H-1 Lebaran, Kamis, 16 Juli 2015. Arus mudik jalur tengah Sumedang Cirebon semakin padat oleh arus kendaraan menuju Majalengka, Cirebon, dan Pantura. TEMPO/Prima Mulia

    TEMPO.CO, Jakarta - Kementerian Perhubungan mengklaim kecelakaan lalu lintas selama arus mudik tahun ini, periode H-7 sampai H+2 Lebaran, berkurang secara signifikan. Hingga Sabtu, 18 Juli 2015, terdapat kecelakaan lalu lintas sebanyak 1.952 kejadian.

    Menurut juru bicara Kementerian Perhubungan, Julius Adravida Barata, dari angka tersebut, jumlah korban meninggal dunia sebanyak 403 orang. Jumlah itu, dia melanjutkan, turun sebesar 11,62 persen.

    ”Tahun lalu, korban tewas akibat kecelakaan mencapai 456 orang,” ujar Julius saat dihubungi, Minggu, 19 Juli 2015. Meski begitu, Julius mengimbau masyarakat tetap berhati-hati.

    Ia menjelaskan, jumlah kecelakaan per hari paling tinggi terjadi pada H-3 Lebaran atau pada 14 Juli 2015 sebanyak 266 kejadian per hari. Menurut dia, pada periode tersebut memang terjadi puncak arus mudik di segala moda transportasi.

    Adapun jumlah korban luka berat juga berkurang secara signifikan, sebesar 40,11 persen atau 709 orang. Pada tahun lalu, korban luka berat sebanyak 1.184 orang. Untuk luka ringan, kecelakaan menelan korban hingga 2.520 orang. Jumlah ini turun dibandingkan tahun lalu sebanyak 2.735 orang.

    Total, jumlah korban menurun hingga 7,86 persen. Selain jumlah korban, menurut Julius, kerugian materiil akibat kecelakaan juga menurun. Pada arus mudik kali ini mencapai Rp 458 juta. Nilai ini berkurang 9 persen dibanding tahun lalu sebanyak Rp 504 juta.

    ROBBY IRFANY


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Gonta-ganti UN, dari Ujian Negara hingga Kebijakan Nadiem Makarim

    Nadiem Makarim akan mengganti Ujian Nasional dengan Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter. Gonta-ganti jenis UN sudah belangsung sejak 1965.