Panglima TNI: Doktrin Tak Ada yang Salah  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kapolri Komjen Pol Badrodin Haiti (kanan) berjabat tangan dengan Jenderal TNI Gatot Nurmantyo usai dilantik sebagai Panglima TNI di Istana Negara, Jakarta, 8 Juli 2015. Tempo/ Aditia Noviansyah

    Kapolri Komjen Pol Badrodin Haiti (kanan) berjabat tangan dengan Jenderal TNI Gatot Nurmantyo usai dilantik sebagai Panglima TNI di Istana Negara, Jakarta, 8 Juli 2015. Tempo/ Aditia Noviansyah

    TEMPO.COJakarta - Panglima Tentara Nasional Indonesia Jenderal Gatot Nurmantyo mengatakan pihaknya menjalin kerja sama dengan Kepala Polri untuk menekan konflik antarsatuan. Kedua pemimpin lembaga ini menandatangani perjanjian pendidikan bersama anggota kepolisian dan prajurit selama tiga bulan.

    "Intinya adalah soal disiplin. Pendidikan, peningkatan disiplin, dan kegiatan bersama-sama. Kalau pemimpin bersama-sama, nanti anak buahnya mengikuti," kata Gatot di Markas Besar TNI, Cilangkap, Selasa, 14 Juli 2015.

    Perjanjian kerja sama diteken Jenderal TNI Moeldoko dan Jenderal Sutarman ketika keduanya masih menjadi Panglima TNI dan Kapolri. Namun pendidikan tersebut belum terlaksana. 

    Gatot mengatakan perselisihan TNI-Polri kerap terjadi di tingkat bawah. Menurut dia, sebanyak 80 persen konflik dilakukan oleh prajurit tingkat dua berpangkat bintara. Rencananya, Gatot akan mengevaluasi sistem pendidikan pada tingkat awal. "Ini akan saya awasi bagaimana rekrutmen, pendidikan, dan pasca-pendidikan. Tapi doktrin tak ada yang salah," ujar Gatot.

    Kapolri Jenderal Badrodin Haiti menganggap lumrah konflik lembaganya dengan TNI. Menurut dia, perselisihan tersebut tak bisa dihilangkan. "Konflik dari dulu memang ada, tidak mungkin tidak ada, ya, karena anggota juga di lapangan," tutur Badrodin di lokasi yang sama. 

    Perseteruan, kata Badrodin, bisa dipicu adu mulut antarpersonel. "Itu yang harus dicegah. Tapi itu masalah pribadi, jangan dibawa ke satuan," ucap Badrodin.

    Konflik TNI-Polri kembali menghangat. Dalam dua pekan terakhir, polisi dan tentara menjadi sasaran penyerangan brutal sekelompok orang tak dikenal. Insiden pertama terjadi di pos polisi di Bundaran Samata, Somba Opu, Gowa, Kamis dinihari, 2 Juli 2015. Brigadir Irvanudin tewas dengan luka bacok pada sekujur tubuhnya. Dua rekannya, Brigadir Dua Usman dan Brigadir Mus Muliadi, ikut terluka tapi berhasil selamat.

    Insiden kedua terjadi di Lapangan Syekh Yusuf, Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa, Minggu dinihari, 12 Juli 2015. Prajurit TNI jadi sasaran puluhan orang tidak dikenal. Prajurit Satu Aspin meregang nyawa dalam kejadian tersebut. Rekannya yang juga di lokasi kejadian, Prajurit Satu Faturahman, ikut terluka tapi berhasil menyelamatkan diri.

    Gatot maupun Badrodin sama-sama membantah pelaku penyerangan berasal dari satuannya. Gatot mengatakan pelaku penyerangan adalah oknum di luar TNI dan polisi. "Itu bukan TNI-Polri, tapi oknum. Itu kriminal," kata Gatot.

    PUTRI ADITYOWATI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hal Penting di Rengasdengklok Sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945

    Satu hari sebelum teks Proklamasi dibacakan, ada peristiwa penting dalam sejarah Indonesia. Kejadian itu dikenal sebagai Peristiwa Rengasdengklok.