Syafii Maarif Angkat Jempol buat KPK  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ahmad Syafii Maarif. Dok. TEMPO/Seto Wardhana

    Ahmad Syafii Maarif. Dok. TEMPO/Seto Wardhana

    TEMPO.COJakarta - Mantan Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah dan pendiri Maarif Institute, Ahmad Syafii Maarif, menyatakan salut kepada Komisi Pemberantasan Korupsi. Lembaga yang masih dirundung kriminalisasi terhadap dua pimpinan dan penyidik utamanya itu dinilai masih bisa melakukan operasi tangkap tangan di tengah situasi sulit.

    "Bagus kalau masih jalan terus begitu. Jangan sampai hal seperti ini hilang. Pimpinan selanjutnya harus bisa mempertahankan," katanya di KPK, Senin, 13 Juli 2015. Ahmad Syafii tiba di KPK sekitar pukul 16.00 WIB. Dia diundang komisi antirasuah untuk memberikan ceramah di hadapan pimpinan dan pegawai KPK.

    KPK pada 9 Juli lalu menangkap lima orang di Medan, yaitu M. Yagari Bhastara Guntur alias Gerry, pengacara anak buah O.C. Kaligis; Tripeni Irianto Putro, Ketua PTUN Medan; Syamsir Yusfan, Panitera/Sekretaris PTUN Medan; dan dua hakim PTUN Medan bernama Amir Fauzi dan Dermawan Ginting. KPK menduga para hakim disuap pengacara itu.

    Sebelum akhirnya masuk ke gedung KPK, pria yang akrab disapa Buya Syafii itu mengingatkan Panitia Seleksi Calon Pimpinan KPK agar tak terpatok pada Undang-Undang KPK dalam mencari calon pemimpin lembaga antikorupsi itu. "Saya tambahkan satu syarat lagi untuk calon pimpinan KPK, yaitu ia harus merupakan petarung sejati," kata Buya.

    Panitia Seleksi akan mengumumkan para calon yang lolos ke seleksi tahap ketiga pada Selasa, 14 Juli 2015. Para calon telah menempuh tes tentang permasalahan korupsi di Indonesia. Semua kandidat juga diminta membuat makalah bertema pemberantasan korupsi. Nama-nama yang lolos akan muncul di laman capimkpk.setneg.go.id. Masyarakat diminta aktif menginformasikan jika ada nama-nama yang dianggap tak layak memimpin KPK lewat laman itu.

    MUHAMAD RIZKI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hal Penting di Rengasdengklok Sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945

    Satu hari sebelum teks Proklamasi dibacakan, ada peristiwa penting dalam sejarah Indonesia. Kejadian itu dikenal sebagai Peristiwa Rengasdengklok.