10 Daerah di Jawa Tengah Mulai Krisis Air

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi kekeringan. REUTERS/Stringer

    Ilustrasi kekeringan. REUTERS/Stringer

    TEMPO.CO , Semarang: Terdapat 10 daerah di Jawa Tengah yang sudah mengajukan bantuan air lantaran mengalami krisis air saat memasuki musim kemarau. “Sejumlah daerah itu sudah mengajukan, ini sedang kami rekap di mana saja yang membutuhkan,” kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Jawa Tengah, Sarwa Pramana, Senin, 6 Juli 2015.

    Menurut Sarwa, sejumlah daerah itu juga diminta menyiapkan surat keputusan kepala daerah masing-masing yang berisi tentang krisis air sehingga bisa mengajukan bantuan ke pemerintah provinsi maupun pemerintah pusat. “Kalau provinsi bisa dibantu lewat badan koordinasi wilayah, kalau pusat lewat BPBD,” kata Sarwa.

    Meski sudah mulai krisis, Sarwa meyakinkan saat ini kondisi daerah itu masih bisa menangani kekurangan air melalui anggaran belanja daerah masing-masing. “Sedangkan bantuan dari Bakorlin dan pusat harus ada keterangan SK kepala daerah tentang siaga darurat air di daerah setempat,” katanya.

    Kepala Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air dan Mineral Jawa Tengah, Prasetyo Budi Yuwono,membenarkan krisis air yang dialami sejumlah daerah. Menurut dia, kekeringan itu terjadi di kawasan pantai utara Jawa Tengah bagian barat seperti Brebes, Tegal, hingga Pemalang. “Termasuk Demak hingga ke timur,” kata Prasetyo.

    Selain kawasan itu, krisis air untuk memenuhi kebutuhan pertanian juga berlansgung di daerah selatan Surakarta seperti Karanganyar, Sragen, dan Wonogiri. “Untuk kekeringan tanaman pangan di Pantura kami selamatkan dengan pinjaman pompa untuk meyedot air,” kata Prasetyo.

    Prasetyo menilai kekeringan yang ada saat ini akibat faktor perbandingan persediaan air dan kebutuhan hanya menunjukkan 0,5 atau 50 persen. Bahkan ia menyebutkan di daerah Karanganyar, Wonogiri, dan Sragen perbandingan persediaan air dan kebutuhan malah di bawah 50 persen.

    Menurut dia, kondisi kekeringan saat ini dipengaruhi oleh karakter cuaca musim kering yang berbeda dengan tahun lalu. Prasetyo menyebutkan pada tahun 2014 di Jateng terjadi musim kering basah, sedangkan saat ini musim kering sebenarnya. “Kalau bulan Agustus tahun lalu, masih ada hujan sekarang Juli sudah sama sekali tidak,” katanya.

    EDI FAISOL


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Arab Saudi Buka Bioskop dan Perempuan Boleh Pergi Tanpa Mahram

    Berbagai perubahan besar yang terjadi di Arab Saudi mulai dari dibukanya bioskop hingga perempuan dapat bepergian ke luar kerajaan tanpa mahramnya.