Kinerja Buruk, Pemegang Saham Minta Direksi Bank Papua Diganti  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo menyapa warga saat peletakan batu pertama pembangunan pasar Pharaa di Sentani, Jayapura, Papua, 27 Desember 2014. Presiden Jokowi berharap pembangunan pasar tersebut dapat meningkatkan perekonomian masyarakat sekitarnya. ANTARA/Prasetyo Utomo

    Presiden Joko Widodo menyapa warga saat peletakan batu pertama pembangunan pasar Pharaa di Sentani, Jayapura, Papua, 27 Desember 2014. Presiden Jokowi berharap pembangunan pasar tersebut dapat meningkatkan perekonomian masyarakat sekitarnya. ANTARA/Prasetyo Utomo

    TEMPO.CO, Jayapura - Dianggap berkinerja buruk, sejumlah kepala daerah di Provinsi Papua, yang juga selaku pemegang saham Bank Papua, mendesak rapat umum pemegang saham (RUPS) untuk mengganti direksi, termasuk Direktur Utama Bank Papua Johan Kafiar. "Jabatan ini juga harus dipilih melalui pelelangan," kata Bupati Lanny Jaya Befa Jigibalom, Jumat sore, 26 Juni 2015.

    Menurut Befa, sekarang ini perlu lelang jabatan tanpa melihat siapa dia supaya bisa mempertanggungjawabkan rencana dan pencapaian target. "Sebab, sudah dua tahun terakhir kinerja Bank Papua memburuk dan sama sekali tak ada pembagian dividen kepada pemegang saham mayoritas yang adalah kepala daerah di Papua dan Papua Barat,” ia menjelaskan.

    Befa menilai selama ini para direksi di Bank Papua tak berhasil membawa bank milik pemerintah itu untuk memperoleh laba semaksimal mungkin dari tahun ke tahun. "Seharusnya seorang direktur membuat busineess plan kepada pemilik modal dan dia harus mencapai target sesuai dengan yang disampaikan kepada pemilik modal."

    Sebab, kata Befa, paling tidak laba bersih Bank Papua per tahunnya bisa mencapai Rp 1 triliun dan paling minim Rp 500 miliar per tahun. "Tahun 2014, keuntungan Bank Papua mencapai Rp 2 triliun, tetapi biaya produksi mencapai lebih dari Rp 1,9 triliun. Laba bersih hanya sekitar Rp 100-200 miliar. Ini tak masuk akal,” ia menjelaskan.

    Befa juga berharap Bank Papua ke depan dapat memilih direksi dengan cara sistem lelang dan tak lagi perlu lagi melihat siapa dia, seperti tahun lalu ada euforia Papuanisasi pada tingkat pimpinan di Bank Papua.

    Bupati Jayawijaya Wempi Wetipo mengatakan saat ini tak ada keberhasilan yang dapat ditonjolkan Bank Papua dalam menjalankan mandat yang diberikan para pemegang saham. "Bahkan dalam RUPS, mayoritas pemegang saham mendesak semua direksi diganti," katanya.

    Selain itu, kata Wempi, kredit macet yang terjadi di Bank Papua sepanjang 2014-2015 mencapai Rp 800 miliar. "Hal ini yang menyebabkan Bank Papua mengalami kerugian besar, sehingga untuk membayar deviden kepada pemegang saham utama terhambat. Pergantian direksi ini harus segera dilakukan,” katanya.

    Saat dimintai konfirmasi terkait desakan adanya pergantian para direksi Bank Papua, Direktur Utama Bank Papua Johan Kafiar belum mau memberikan jawaban terkait desakan reshuffle dari sejumlah pemegang saham. “Nanti ya setelah RUPS ini selesai baru bisa dirilis hal lainnya,” katanya memberi alasan.

    CUNDING LEVI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Gerhana Bulan Parsial Umbra Terakhir 2019

    Pada Rabu dini hari, 17 Juli 2019, bakal terjadi gerhana bulan sebagian. Peristiwa itu akan menjadi gerhana umbra jadi yang terakhir di tahun 2019.