Setelah Tebing Ambrol, Pantai Sadranan Gunungkidul Ditutup

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tim SAR melakukan proses evakuasi korban yang tertimbun runtuhan tebing pantai Sadranan, Tepus, Gunung Kidul, Yogyakarta, 17 Juni 2015. Saat runtuh, sejumlah orang sedang berada di lokasi untuk berlibur merayakan kedatangan Ramadan. TEMPO/Pius Erlangga

    Tim SAR melakukan proses evakuasi korban yang tertimbun runtuhan tebing pantai Sadranan, Tepus, Gunung Kidul, Yogyakarta, 17 Juni 2015. Saat runtuh, sejumlah orang sedang berada di lokasi untuk berlibur merayakan kedatangan Ramadan. TEMPO/Pius Erlangga

    TEMPO.COYogyakarta - Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Istimewa Yogyakarta Gatot Saptadi menyatakan lokasi wisata Pantai Sadranan di Desa Sidoharjo, Kecamatan Tepus, Kabupaten Gunungkidul, ditutup sementara dari kunjungan wisatawan. Penutupan itu menyusul bencana tebing karang di pantai tersebut yang ambrol pada Rabu sore, 17 Juni 2015.

    “Sementara ini, kami tutup sampai waktu yang belum ditentukan, karena menunggu evakuasi selesai,” kata Gatot saat dihubungi Tempo, Kamis, 18 Juni 2015.

    Gatot memastikan proses evakuasi terus dilanjutkan. Sebab, masih ada keluarga korban selamat dari Magelang yang menyatakan ada anggota keluarganya yang hilang atau belum kembali. “Mereka bilang ada tiga anggota keluarganya yang hilang,” ucap Gatot.

    Gatot belum bisa menyimpulkan tiga orang yang dimaksud tersebut hilang karena ikut menjadi korban tebing ambrol. Menurut data yang diterima Gatot, sudah ada enam korban berhasil dievakuasi. Empat orang dalam kondisi meninggal dunia dan dua lainnya luka parah.

    Proses evakuasi pagi ini yang dilakukan tim gabungan Search and Rescue Gunungkidul, SAR DIY, polisi, dan TNI dihentikan sejak pukul 07.00 karena air laut pasang. “Pukul 12.00 dilanjutkan kembali,” tutur Gatot. 

    PITO AGUSTIN RUDIANA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Upaya Pemerintah Mengolah Sampah Menjadi Bahan Baku PLTSa

    Pemerintah berupaya mengurangi persoalan sampah dengan cara mengolahnya menjadi energi penggerak PLTSa di duabelas kota di Indonesia.