Nilai Devi 'Jeblok' di Mata Kuliah Perancangan Kontrak  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Devi Triasari menunjukkan transkrip nilainya yang mencapai IPK 3,99 dari skala 4. Ia merupakan mahasiswi penerima Bidik Misi, beasiswa untuk keluarga tidak mampu. TEMPO/Ahmad Rafiq

    Devi Triasari menunjukkan transkrip nilainya yang mencapai IPK 3,99 dari skala 4. Ia merupakan mahasiswi penerima Bidik Misi, beasiswa untuk keluarga tidak mampu. TEMPO/Ahmad Rafiq

    TEMPO.CO, Solo - Lulusan terbaik Universitas Sebelas Maret (UNS), Devi Triasari, mengaku hanya satu mata kuliah yang mendapat nilai B. "Hanya gagal dapat nilai A di mata kuliah perancangan kontrak," kata mahasiswi Fakultas Hukum UNS, Senin, 1 Juni 2015.

    Perempuan asal Ngawi ini akan diwisuda pada pertengahan bulan ini. Indeks prestasi kumulatif-nya mencapai 3,99 dalam skala empat. Devi menyelesaikan kuliah sarjana strata satunya dalam waktu tiga tahun enam bulan. Dia berhasil menyelesaikan 156 satuan kredit semester (SKS) dengan nilai gemilang.

    Hampir semua mata kuliahnya yang diambil bisa memperoleh nilai sempurna atau nilai A. Meski mendapat nilai B, Devi mengaku tak terlalu kesulitan saat mengikuti mata kuliah perancangan kontrak. "Sepertinya memang nilai B menjadi nilai tertinggi dalam mata kuliah ini," katanya.

    Dia juga tidak berupaya mengulang agar bisa memperoleh nilai A dalam mata kuliah tersebut. "Lulusnya bisa tertunda jika harus mengulang," katanya. Akhirnya, ia memilih lulus dengan berhias satu nilai B di transkrip nilainya.

    Keinginan untuk bisa lulus cepat bukan tanpa alasan. Devi harus mencukupi semua kebutuhan kuliahnya dengan bekerja dan dana beasiswa Bidik Misi yang diperolehnya. Orang tuanya yang merupakan pasangan buruh tani dan pembantu rumah tangga tidak mampu untuk membantu biaya kuliahnya.

    AHMAD RAFIQ


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Upaya Pemerintah Mengolah Sampah Menjadi Bahan Baku PLTSa

    Pemerintah berupaya mengurangi persoalan sampah dengan cara mengolahnya menjadi energi penggerak PLTSa di duabelas kota di Indonesia.