Proyek Amal Fiktif, Bareskrim Panggil Dirut Pelindo II  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Budi Waseso. ANTARA/M Agung Rajasa

    Budi Waseso. ANTARA/M Agung Rajasa

    TEMPO.COJakarta - Badan Reserse Kriminal Markas Besar Kepolisian RI terus mendalami kerugian negara dalam Program Bina Lingkungan sejumlah BUMN. Hari ini Bareskrim bakal memanggil Direktur Utama Pelindo II Richard Joost Lino sebagai saksi. 

    "Hari ini akan dipanggil sejumlah saksi usai salat Jumat, termasuk dia," kata Kepala Bareskrim Komisaris Jenderal Budi Waseso, Jumat, 29 Mei 2015. Proyek tersebut melibatkan Bank BNI, BRI, PT Asuransi Kesehatan, Pertamina, PGN, Pelindo, dan Hutama Karya. Proyek senilai Rp 317 miliar itu terjadi pada 2012-2014.

    Budi mengatakan Bareskrim terus mendalami kasus ini yang diproses atas laporan masyarakat. "Secara fisik, kegiatan itu (cetak sawah) tidak ada. Kami menduga ada penyimpangan dana itu," ujarnya.

    Menurut Budi, program cetak sawah di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, melibatkan sejumlah BUMN yang mengucurkan dana tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility/CSR). Kegiatan cetak sawah adalah satu dari sejumlah kegiatan lain, termasuk pengembangan sorgum, pembibitan sapi, dan pembangunan rumah susun sederhana milik.

    Kenyataannya, setelah penyidik Bareksrim mendatangi lokasi, program cetak sawah itu tak dilaksanakan. "Tapi ada pengeluaran dana," tutur Budi Waseso. "Sedang kami dalami apakah hanya cetak sawah atau ada kegiatan lain."

    Pada kasus yang sama, Bareskrim menjadwalkan pemeriksaan Direktur Utama PT Perusahaan Gas Negara (PGN) Hendi Priyosantoso, Direktur Utama PT Sang Hyang Seri Upik Raslina, dan mantan Direktur Utama Pertamina Karen Agustiawan, kemarin. Namun ketiganya tak hadir dalam pemeriksaan sebagai saksi itu.

    INDRI MAULIDAR


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Instagram Uji Coba Menghilangan Fitur Likes agar Fokus ke Konten

    Instagram tengah lakukan uji coba penghapusan fitur likes di beberapa negara pada Juli 2019. Reaksi pengguna terbelah, sebagian merasa dirugikan.