Pengungsi Rohingya Ini Ingin Jadi Ahli Komputer

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Puluhan pengungsi etnis Rohinya antre makanan di tempat penampungan sementara di Kuala Langsa, Aceh, 25 Mei 2015. Ribuan etnis Rohingya mengungsi ke Indonesia, Malaysia, dan Thailand. AP/Binsar Bakkara

    Puluhan pengungsi etnis Rohinya antre makanan di tempat penampungan sementara di Kuala Langsa, Aceh, 25 Mei 2015. Ribuan etnis Rohingya mengungsi ke Indonesia, Malaysia, dan Thailand. AP/Binsar Bakkara

    TEMPO.CO, Aceh Timur - Muhammad Salim mengeluarkan kartu berwarna hijau seukuran KTP dari dalam dompet cokelatnya. Di bagian atas kartu tertera lambang United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR). Di bawahnya sederet data pribadi Salim yang salah satunya menyatakan dirinya kelahiran 1992. "Ini kartu tanda penghuni refugee camp UNHCR di Bangladesh," kata Salim di lokasi pengungsian di Desa Bayeun, Rantau Selamat, Aceh Timur, Jumat, 29 Mei 2015.

    Salim dilahirkan di camp tersebut. Kedua orang tuanya yang beretnis Rohingya harus meninggalkan negara kelahiran mereka, Myanmar, pada 1992 karena mendapat ancaman dari kelompok Buddha setempat. Setiap hari, cerita Salim, umat muslim dibantai oleh kelompok Buddha dan negara tak melakukan apa-apa. "My country needs no muslim," ujar dia. "Kami harus keluar."

    Tumbuh besar di camp pengungsian, lelaki bertubuh kecil dan berjambang tipis itu mengatakan segala kepenuhannya terpenuhi walau pas-pasan. Penghuni camp harus berbaris setiap hari untuk menerima makanan. Segala kebutuhan sehari-hari juga harus dijatah karena penghuni camp yang cukup banyak.

    Situs resmi UNHCR mencatat ada 29 ribu pengungsi Rohingya yang ditempatkan di camp Bangladesh. Mereka tak diperbolehkan bekerja di luar area camp. Kondisi camp yang telah berdiri selama puluhan tahun itu pun sudah semakin rusak.

    Salim memperoleh pendidikan hingga setara kelas 5 SD di tempat pengungsian. Di sana pula Salim belajar bahasa Inggris dari staf UNHCR dan non-government organization lainnya. Karena itu, ia bisa menceritakan kisahnya kembali pada Tempo dalam kalimat-kalimat yang cukup dapat dimengerti.

    Ayah Salim kini sudah meninggal. Ibu dan lima orang saudaranya masih menetap di camp. Salim memutuskan pergi. "Saya sudah 23 tahun, ingin belajar dan melihat dunia."

    Terdampar di Indonesia bukanlah pilihannya. Walaupun berterima kasih atas kebaikan warga Aceh, Salim ingin secepatnya angkat kaki dari Indonesia. Dia mengatakan perekonomian Indonesia masih belum maju, terbukti dari rendahnya nilai tukar uang. "Jagung ini harganya Rp 20 ribu di sini," kata dia sambil menunjuk jagung rebus yang dibelinya dari pedagang di pinggir jalan lintas Medan-Banda Aceh. "Sementara dengan uang Malaysia hanya dua ringgit." 

    Cita-cita Salim adalah menetap di negara adigdaya seperti Amerika Serikat, Kanada, atau Kuwait. Dia ingin mempelajari ilmu komputer dan menjadi ahli di bidang itu. Setelah sukses, dia ingin kembali ke tempat pengungsi di Bangladesh. "Saya akan menjemput keluarga saya dan membahagiakan mereka," ujarnya.

    MOYANG KASIH DEWIMERDEKA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Upaya Pemerintah Mengolah Sampah Menjadi Bahan Baku PLTSa

    Pemerintah berupaya mengurangi persoalan sampah dengan cara mengolahnya menjadi energi penggerak PLTSa di duabelas kota di Indonesia.