Cerita Imigran Bangladesh, Dua Bulan di Laut tanpa Makan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Imigran Bangladesh (kanan) mengajarkan membaca huruf alfabet kepada imigran etnis Rohingya, Myanmar di lokasi penampungan Imigrasi kelas I khusus Medan, 23 Mei 2015. ANTARA/Irsan Mulyadi

    Imigran Bangladesh (kanan) mengajarkan membaca huruf alfabet kepada imigran etnis Rohingya, Myanmar di lokasi penampungan Imigrasi kelas I khusus Medan, 23 Mei 2015. ANTARA/Irsan Mulyadi

    TEMPO.CO, Aceh Timur - Keinginan Al Amin, 30 tahun, sederhana saja. Ia mencari kerja agar mendapat gaji sepuluh kali lipat dari yang ia terima di Bangladesh. Di Malaysia, konon Amin bisa memperoleh gaji 100 ribu taka (mata uang Bangladesh) atau sekitar Rp 16,5 juta per bulan. "Di Bangladesh paling 8-10 ribu kata," ujar Amin dalam bahasa Inggris patah-patah kepada Tempo di lokasi pengungsian di Desa Bayeun, Rantau Selamat, Aceh Timur, Kamis, 28 Mei 2015.

    Meninggalkan istri dan dua anak berusia 5 dan 1 tahun, Amin pun menumpang kapal yang diharapkan akan membawanya ke Malaysia. Dia menyerahkan duit sebanyak 200 ribu taka atau sekitar Rp 33 juta kepada pedagang manusia untuk membawanya dengan kapal menuju Malaysia. Amin harus menaiki perahu kecil lebih dulu sebelum kemudian lanjut dengan kapal yang lebih besar.

    Kapal itu diparkir di tengah laut lepas Bangladesh. Sudah ada orang-orang Rohingya dari Myanmar di atasnya saat Amin datang. Amin menghitung total penumpang lebih dari 400 orang. Kapal tersbeut jelas kelebihan muatan. Tali besar diikatkan mengelilingi lambung kapal untuk menahan agar kapal itu tak pecah lantaran kelebihan beban.

    Penumpang kapal, kata Amin, tak punya pilihan posisi, kecuali duduk dengan memeluk lutut. Mereka dibariskan di atas dek kapal, tak bisa meluruskan kaki apalagi berbaring saking sesaknya penumpang. Safaid Hosin, 20 tahun, mengenang perjalanan itu dengan mata menerawang. "Kami di kapal empat bulan, dua bulan tak makan," ujar Safaid, yang juga meninggalkan seluruh keluarganya di Bangladesh demi mencari pekerjaan.

    Awalnya, mereka diberi makan tiga kali sehari. Masing-masing berupa nasi sebesar kepalan tangan. Dengan cepat, frekuensi makan berubah jadi dua kali sehari, lalu hanya sekali di malam hari. Begitu pula dengan air minum. Satu botol minum harus dihemat untuk empat hari. Saat air bersih habis, mereka mencoba minum air laut, tapi asinnya tak tertahankan.

    Akhirnya, tak ada pilihan lain selain meminum air kencing sendiri yang dicampur dengan potongan cabai untuk menyamarkan aromanya. Saat memasuki perairan Thailand, kapten kapal memohon izin pada otoritas setempat agar kapal boleh merapat. Izin tak diberikan. "Lima orang, kapten dan krunya, lalu naik kapal kecil. Mereka meninggalkan kami," ujar Safaid.

    Kapal dengan mesin mati dan tanpa awak itu hanya bisa mengapung di lautan, mengikuti arus. Pemerintah Thailand sempat mendekati kapal itu dengan helikopter dan kapal untuk memberi makanan. Bahan makanan itu segera disambar pengungsi walau harus menceburkan diri ke lautan. Dengan sumbangan itulah mereka bertahan selama perjalanan.

    Amin mengatakan pelayaran itu begitu mengerikan, sehingga ada sepuluh orang yang kehilangan akal. "Suatu hari mereka melompat saja dari atas kapal masuk ke lautan. Mereka tak kembali."

    MOYANG KASIH DEWIMERDEKA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Instagram Uji Coba Menghilangan Fitur Likes agar Fokus ke Konten

    Instagram tengah lakukan uji coba penghapusan fitur likes di beberapa negara pada Juli 2019. Reaksi pengguna terbelah, sebagian merasa dirugikan.