Juara Lomba Tembak, TNI Kalahkan Australia dan Amerika

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang Tentara Nasional Indonesia, beraksi saat ikuti lomba tembak Piala Panglima TNI di Lapangan Tembak Kartika Divisi I Kostrad Cilodong, Depok, 27 Oktober 2014. Lomba tersebut sebagai persiapan TNI untuk mengikuti lomba menembak tingkat asia dan dunia. TEMPO/Ilham Tirta

    Seorang Tentara Nasional Indonesia, beraksi saat ikuti lomba tembak Piala Panglima TNI di Lapangan Tembak Kartika Divisi I Kostrad Cilodong, Depok, 27 Oktober 2014. Lomba tersebut sebagai persiapan TNI untuk mengikuti lomba menembak tingkat asia dan dunia. TEMPO/Ilham Tirta

    TEMPO.CO, JakartaPerwakilan TNI Angkatan Darat berhasil menjuarai lomba menembak antar tentara yang digelar di Puckapunyal, Australia, pada 20-23 Mei 2015. Dalam lomba bertajuk Australian Army Skill at Arms Meeting (AASAM), perwakilan Indonesia mampu mengalahkan tim tuan rumah, Amerika Serikat, dan Inggris.

    "Perolehan medali kami pun terpaut sangat jauh. Bisa dibilang kami menang mutlak," kata Kepala Dinas Penerangan TNI AD Brigadir Jenderal Wuryanto saat dihubungi, Ahad, 24 Mei 2015.

    Pada klasemen akhir, kontingen Indonesia sukses meraih 30 medali emas, 16 perak, dan 10 perunggu. Sementara Angkatan Darat Australia yang duduk di posisi dua mengantongi 4 medali emas, 9 perak, dan 6 perunggu. Perwakilan Amerika Serikat yang bertengger di posisi ketiga mendapat 4 medali emas, 1 perak, dan 2 perunggu. 

    Dalam lomba tersebut, TNI AD menurunkan 14 prajurit terbaiknya yang berasal dari kesatuan Komando Pasukan Khusus (Kopassus) dan Komando Cadangan Strategis (Kostrad). Lima orang staf dan dua orang tenaga ahli dari PT Pindad juga ikut serta menemani 14 prajurit tersebut.

    Menurut Wuryanto, perlombaan menembak bukan hal baru bagi TNI AD. Angkatan Darat sudah sering mengikuti perlombaan serupa yang diadakan di berbagai negara. Posisi juara umum di Australia merupakan kemenangan kedelapan bagi TNI AD dalam lomba menembak di kawasan Asia-Pasifik.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kasus Kartel Harga Tiket Pesawat Siap Disidangkan

    Komisi Pengawas Persaingan Usaha menduga mahalnya harga tiket pesawat disebabkan pasar oligopolistik. Citilink dan Lion Air diduga terlibat.