Kasus Petral, Bareskrim Mintai Pendapat Faisal Basri  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Tim Reformasi Tata Kelola Migas Faisal Basri (kiri) saat diskusi rekomendasi penghapusan BBM jenis Premium atau Ron 88, di Jakarta, 27 Desember 2014. ANTARA/Andika Wahyu

    Ketua Tim Reformasi Tata Kelola Migas Faisal Basri (kiri) saat diskusi rekomendasi penghapusan BBM jenis Premium atau Ron 88, di Jakarta, 27 Desember 2014. ANTARA/Andika Wahyu

    TEMPO.COJakarta - Mantan Ketua Tim Reformasi Tata Kelola Minyak dan Gas Bumi Faisal Basri mengaku dimintai pendapat soal kasus Petral. Ia pun menyebutkan sejumlah nama yang terkait dengan kasus tersebut, tapi bukan nama mafia migas. 

    "Petral ini kan panas dari dulu. Teman-teman Bareskrim pengin tahu kasus Petral, jadi saya kasih tahu," katanya di Markas Besar Polri, Kamis, 21 Mei 2015. "Saya kantongi nama-nama, Bareskrim juga. Kebetulan ada yang cocok, tapi bukan nama mafia migas."

    Kepala Direktorat Tindak Pidana Khusus Bareskrim Polri Brigadir Jenderal Victor Simanjuntak membenarkan pertemuannya tersebut membahas soal Petral. Victor merasa harus berbicara dengan Faisal secara langsung setelah membaca rekomendasinya. 

    "Pak Faisal kan sebagai ahli ekonomi, pakar, sehingga ada pengetahuan bagi kita tentang masalah di Petral," ujar Victor.

    Victor menyatakan tidak menutup kemungkinan bakal mengembangkan kasus lain terkait dengan Petral. "Kita hanya cari pengalaman dulu dengan Pak Faisal. Kita tahunya beliau sebagai Ketua Tim Reformasi Migas tentu punya bahan-bahan yang kami perlukan," ucapnya. "Pasti nanti akan ditindaklanjuti."

    Sebelumnya, Tim Reformasi Tata Kelola Minyak dan Gas Bumi mengeluarkan 12 rekomendasi yang diberikan kepada Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. Salah satu rekomendasinya adalah pembubaran Petral Group. 

    Untuk pembubaran Petral masih harus menunggu hasil audit investigasi yang ditargetkan rampung pada April 2016. PT Pertamina Tbk saat ini masih menyeleksi lembaga audit. 

    "Kalau tim cuma mengharapkan diambil alih oleh Pertamina supaya fasilitasnya bisa dipakai untuk memproduksi RON 92, gitu aja," tutur Faisal.

    DEWI SUCI RAHAYU


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Para Pencari Suaka Afganistan dan Data Sejak 2008

    Para pencari suaka Afganistan telantar di depan Kementerian BUMN di Jakarta pada Juli 2019. Sejak 2008, ada puluhan ribu pencari suaka di Indonesia.