Cerita Trauma Warga Madiun tentang Pabrik Kembang Api  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi Kembang Api (bbc)

    Ilustrasi Kembang Api (bbc)

    TEMPO.CO, Madiun - Warga Jalan Jati Siwur, Kelurahan Demangan, Kecamatan Taman, Kota Madiun, Jawa Timur, berunjuk rasa menolak keberadaan pabrik kembang api di wilayah permukiman mereka, Selasa, 19 Mei 2015.

    Alasannya, tempat usaha itu menyebabkan polusi udara. "Bau bahan kembang api sangat menyengat dan tercium sampai ke luar. Sudah dua bulan ini," kata Darmono, 55 tahun, warga Demangan.

    Selain menyoal bau yang menyengat, warga mengkhawatirkan keselamatan mereka lantaran menganggap pabrik kembang api rentan meledak. Darmono mencontohkan pabrik kembang api di kelurahan tetangga yang beberapa kali terbakar pada rentang 1984 hingga 1992. Akibat sederet peristiwa itu, sejumlah warga meninggal dunia lantaran diduga menghirup bahan kimia kembang api.

    Khawatir peristiwa serupa tejadi di daerah mereka, warga memasang beberapa poster bernada protes di dekat pabrik kembang api yang dipermasalahkan itu. Poster-poster itu bertuliskan: "Pak Wali, Pak Kapolres lindungilah keselamatan kami", "Pak Wali jangan keluarkan izin pabrik kembang api, keselamatan kami lebih penting daripada PAD (pendapatan asli daerah)", dan "Warga RT 19 Demangan menolak berdirinya pabrik kembang api di wilayah kami".

    Pemasangan poster penolakan pabrik yang dibentangkan di atas jalan itu dipantau oleh anggota Satuan Intelijen dan Keamanan Kepolisian Resor Madiun Kota dan Satuan Polisi Pamong Praja Kota Madiun. Petugas dari Kecamatan Taman juga memantau jalannya unjuk rasa warga.

    Sabarudin, tokoh masyarakat Demangan, mengatakan selama ini warga tidak pernah menyetujui keberadaan pabrik kembang api di wilayah itu. Menurut dia, warga selalu menolak ajakan musyawarah dengan kelurahan dan pengusaha kembang api.

    "Kami trauma karena pabrik lama di gang sebelah sering meledak," ujarnnya. Menurut Sabarudin, pabrik kembang api di Jalan Sekolahan, Keluarahan Demangan, yang sempat meledak akan dipindah ke Jalan Jati Siwur.

    Kajiran, petugas keamanan pabrik kembang api, mengatakan pabrik yang diprotes warga itu belum dipakai sebagai tempat produksi. Hingga kini, bangunan yang dijaganya itu hanya digunakan untuk menyimpan kembang api. "Hanya untuk gudang. Rencananya akan digunakan sebagai pabrik produksi, tapi saya tidak tahu prosesnya," katanya.

    NOFIKA DIAN NUGROHO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Para Pencari Suaka Afganistan dan Data Sejak 2008

    Para pencari suaka Afganistan telantar di depan Kementerian BUMN di Jakarta pada Juli 2019. Sejak 2008, ada puluhan ribu pencari suaka di Indonesia.