Pakai Rumus Matematika untuk Tenun, Pelajar Bali Juara di AS  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang pekerja menggambar desain motif sarung tenun di sebuah rumah industri di desa Morowudi, Gresik, Kamis (7/26). Sarung tenun khas kota Gresik yang kaya akan warna dan motif alam ini didistribusikan ke sejumlah wilayah di Indonesia serta ke Brunei dan Timur Tengah. Setiap Ramadan permintaan sarung tenun dari pasar lokal selalu meningkat hingga 20 persen. TEMPO/Fully Syafi

    Seorang pekerja menggambar desain motif sarung tenun di sebuah rumah industri di desa Morowudi, Gresik, Kamis (7/26). Sarung tenun khas kota Gresik yang kaya akan warna dan motif alam ini didistribusikan ke sejumlah wilayah di Indonesia serta ke Brunei dan Timur Tengah. Setiap Ramadan permintaan sarung tenun dari pasar lokal selalu meningkat hingga 20 persen. TEMPO/Fully Syafi

    TEMPO.CO, Jakarta - Dua pelajar Bali, I Kadek Sudiarsana dan I Dewa Gede Ary, mengembangkan motif gringsing, kain tenun khas Bali, dengan rumus matematika.

    Berkat karya ilmiah itu, pelajar Sekolah Menengah Atas Negeri Bali Mandara, Singaraja, ini menempati peringkat keempat kategori matematika di kompetisi Intel International Science and Engineering Fair (Intel ISEF) di Pittsburgh, Amerika Serikat, 10-15 Mei 2015.

    Mereka membuat pola tenun gringsing dengan konsep matematika karena prihatin motif kerajinan kain yang hampir punah itu tak berubah. "Diawali dari penemuan rumus dasar motif kain gringsing yang sudah ada melalui fractal dan dikembangkan dengan rumus matematika," kata Ary dalam jumpa pers di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Senin, 18 Mei 2015.

    Riset Ary dan Kadek yang berjudul "The Motifs Development of Gringsing Sarong" adalah terobosan di dunia sains karena bisa diaplikasikan di bidang industri. Riset mereka mengangkat obyek budaya yang dinilai layak mewakili Indonesia.

    Sebelumnya, Ary dan Kadek meraih medali emas di Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia pada 2014. Menurut Ary, juri tertarik kepada karya ilmiah mereka karena memuat kolaborasi antara sains dan budaya serta bisa langsung diaplikasikan.

    Para pelajar itu juga diganjar Grand Awards dan uang hadiah masing-masing sebesar US$ 500. Menurut Kadek, besar-kecilnya uang hadiah tak jadi masalah karena mereka sudah berhasil tampil di kompetisi riset sains tingkat SMA terbesar di dunia itu. "Kami tak terlalu menginginkan uang, tapi sertifikatnya, karena lebih berguna," kata Kadek, yang bercita-cita menjadi Gubernur Bali.

    Ini adalah kali pertama Kadek dan Ary pergi ke luar negeri dan langsung mendapatkan penghargaan. Dua pelajar itu berharap motif gringsing akan berkembang. Dengan demikian, konsumen akan kembali tertarik dan tradisi kerajinan kain itu tetap lestari.

    Tim Indonesia lain yang berhasil meraih Grand Awards dalam kompetisi ini berisi Luca Cada Lora dan Galih Ramadhan dari SMAN 1 Surakarta. Mereka membuat riset tentang manfaat abu vulkanis sebagai penyaring alami logam berat.

    MAYA AYU


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Upaya Pemerintah Mengolah Sampah Menjadi Bahan Baku PLTSa

    Pemerintah berupaya mengurangi persoalan sampah dengan cara mengolahnya menjadi energi penggerak PLTSa di duabelas kota di Indonesia.