Forensik: Luka di Tubuh Yoseph Kemungkinan Jatuh

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah anak buah kapal warga negara Myanmar, Laos, dan Kamboja, yang bekerja di PT. PBR Benjina tiba di PPN Tual, Maluku, 4 April 2015. Sebanyak 323 ABK diangkut menuju ke Tual dengan pengawalan KRI Pulau Rengat dan Kapal Pengawas Hiu Macan 004. ANTARA/Humas Kementerian Kelautan Perikanan

    Sejumlah anak buah kapal warga negara Myanmar, Laos, dan Kamboja, yang bekerja di PT. PBR Benjina tiba di PPN Tual, Maluku, 4 April 2015. Sebanyak 323 ABK diangkut menuju ke Tual dengan pengawalan KRI Pulau Rengat dan Kapal Pengawas Hiu Macan 004. ANTARA/Humas Kementerian Kelautan Perikanan

    TEMPO.CO , Jakarta: Pakar forensik dari Universitas YARSI, Ferryal Basbeth, mengungkapkan luka yang ada di tubuh Yoseph Sairlela karena terantuk benda keras saat terjatuh. "Penyebab Oce tumbang dengan tiba-tiba diduga akibat serangan jantung," katanya saat dihubungi Tempo, Kamis, 23 Maret 2015.

    Yoseph alias Oce adalah pegawai Kementerian Perikanan dan Kelautan yang menjabat Koordinator Pos Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (SDKP) Kepulauan Aru.

    Dia berada di Jakarta untuk kepentingan penyelidikan kasus illegal fishing di Pulau Benjina, Kepulauan Aru.  Ketika menginap di Hotel Treva Internasional, kawasan Menteng, Jakarta Pusat badannya menggigil dan meninggal saat perjalanan ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. Dokter menyatakan Oce terkena serangan jantung.

    Ferryal menegaskan bahwa penyakit jantung menempati peringkat pertama penyebab kematian mendadak dan tak terduga di dunia.  "Memang sulit diprediksi bila seseorang tewas karena sakit jantung,"  katanya.

    Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti curiga ada potensi pembunuhan dalam kematian Oce yang mendadak itu. Ia pun meminta jasad anak buahnya itu diotopsi untuk mengetahui kepastiannya.

    Ferryal menambahkan polisi wajib mengotopsi jenazah Oce. Sebab, hasil otopsi bakal memperkuat dugaan yang sementara disimpulkan oleh polisi. Bila perlu, kata dia, proses otopsi harus bisa menyelidiki rekam medis Oce.  Apa dia punya riwayat jantung, katanya,  mengonsumsi obat sakit jantung juga atau tidak sebelum kematiannya.

    Dia juga menyarankan otopsi digelar secara komprehensif dan utuh sehingga penyebab kematian Oce diketahui secara jelas. Polisi, kata Ferryal, juga harus transparan untuk mengumumkan hasil otopsi yang otentik kepada publik.  "Ini demi menyingkirkan hal-hal yang mencurigakan dalam kematian Oce."

    RAYMUNDUS RIKANG



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tujuh Poin Revisi UU KPK yang Disahkan DPR

    Tempo mencatat tujuh poin yang disepakati dalam rapat Revisi Undang-undang Nomor 30 tahun 2002 atau Revisi UU KPK pada 17 September 2019.