Lama Ingin ke Jakarta, Ini Ambisi Mario Si Penyusup Garuda

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Mario Steven Ambarita. facebook.com

    Mario Steven Ambarita. facebook.com

    TEMPO.CO, Pekanbaru - Penyusup di ruang roda pesawat Garuda GA 177, Mario Steven Ambarita, 21 tahun, telah merencanakan keberangkatannya ke Jakarta dengan menumpangi pesawat sejak setahun lalu. "Sudah lama dia ingin ke Jakarta," kata teman Mario, Moris, saat ditemui Tempo di Bagan Batu, Rokan Hilir, Kamis, 9 April 2015.

    Menurut Moris, Mario memang sosok pemuda yang memiliki ambisi besar. Ia sangat ingin hidup mapan. "Dia ingin hidup senang di rantau, bukan di sini," ujar Moris.

    Moris menjelaskan, semula keinginan Mario ke Jakarta tidak begitu ditanggapi oleh teman-temannya, mengingat Mario tidak memiliki uang banyak untuk naik pesawat. "Dia menganggur, jadi tidak mungkin punya uang," ujarnya.

    Kepada Moris, Mario sering menceritakan keinginannya menata hidup di perantauan agar bisa menjadi orang sukses. "Katanya dia ingin hidup senang, ingin membina rumah tangga, tapi di rantau," katanya.

    Tidak punya ongkos ke Jakarta, Mario akhirnya nekat menumpangi pesawat Garuda GA 177 dengan cara menyusup di rongga ban pesawat. Hal itu spontan membuat seluruh temannya kaget. "Tidak habis pikir kenapa dia senekat itu," ujar Moris.

    Mario menumpang pesawat Garuda Indonesia GA 177 dari Pekanbaru ke Jakarta pada Selasa, 7 April 2015. Mario ditemukan petugas Bandara Soekarno-Hatta saat keluar dari dalam rongga pesawat. Mario langsung dibawa ke klinik untuk diperiksa kesehatannya.

    Seusai pemeriksaan 24 jam, Penyidik Pegawai Negeri Sipil Kementerian Perhubungan menetapkan warga Jalan Kapuas Ujung, Bagan Batu, Rokan Hilir, itu sebagai tersangka. Ia disangka melanggar Undang-undang Penerbangan. 

    RIYAN NOFITRA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sebab dan Pencegahan Kasus Antraks Merebak Kembali di Gunungkidul

    Kasus antraks kembali terjadi di Kabupaten Gunungkidul, DI Yogyakarta. Mengapa antraks kembali menjangkiti sapi ternak di dataran tinggi tersebut?