Beda Musibah Air Asia dengan Adam Air

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kapal EDT Offshore menurunkan kapal selam tanpa awak (Remote Operation Vehicle/ROV) ke dalam laut. ROV kapal EDT Offshore inilah yang mengambil kotak hitam pesawat Adam Air 574 di perairan Majene, Sulawesi, pada Agustus 2007. ROV itu dapat menyelam hingga kedalaman 6.000 meter, dilengkapi dengan sonar, kamera laut dalam, lengan robotik dan sebuah keranjang. smd.co.uk

    Kapal EDT Offshore menurunkan kapal selam tanpa awak (Remote Operation Vehicle/ROV) ke dalam laut. ROV kapal EDT Offshore inilah yang mengambil kotak hitam pesawat Adam Air 574 di perairan Majene, Sulawesi, pada Agustus 2007. ROV itu dapat menyelam hingga kedalaman 6.000 meter, dilengkapi dengan sonar, kamera laut dalam, lengan robotik dan sebuah keranjang. smd.co.uk

    TEMPO.COJakarta - Dua hari mencari keberadaan pesawat Air Asia QZ8501 yang hilang kontak pada Ahad pagi, 28 Desember 2014, belum membuahkan hasil. Sulitnya mencari pesawat tersebut mengingatkan pada pencarian pesawat Adam Air di perairan Sulawesi pada 2007. Kondisi akhir, cuaca buruk yang dihadapi Air Asia sebelum ilang kontak mirip dengan detik-detik jatuhnya Adam Air. (Baca: Puing Diduga Air Asia Ditemukan Nelayan Ahad Lalu)

    Pada 1 Januari 2007, pesawat Boeing 737-400 Adam Air bertolak dari Bandara Juanda, Surabaya. Seharusnya, pesawat dengan nomor DHI574 mendarat di Makassar pukul 14.25 WIB, kemudian melanjutkan ke penerbangan ke Manado. (Baca: Ombak dan Arus Ganas di Titik Hilang Kontak Air Asia)

    Namun, pada pukul 14.07 WIB, Adam Air hilang dari pantauan radar di dekat laut Makassar. Waktu itu, pesawat berada di ketinggian 10.668 meter atau sekitar 35 ribu kaki. Sampai batas akhir bahan bakar pesawat Adam Air pukul 17.00 WIB, keberadaan pesawat belum juga diketahui. (Baca: Air Asia, Pesawat dan Heli Dikirim ke Utara Bangka)

    Rekaman kotak hitam Adam Air DHI574 yang ditemukan tujuh bulan kemudian menceritakan dasyatnya pesawat tersebut menghujam ke laut. Kotak hitam Adam Air DHI 574 diangkat dari dasar laut di kedalaman 2.000 meter di perairan Majene, Sulawesi Barat, ke permukaan pada 28 Agustus 2007. (Baca: Tim Pencari Air Asia Temukan Benda Mirip Pelampung)

    Rekaman di dalam kotak hitam berhenti ketika pesawat berada di ketinggian 2.743 meter. Selama 20 detik kemudian, dengan kecepatan tercatat 1.105 kilometer per jam, pesawat itu langsung menghujam ke laut. (Baca: Pengamat: Serpihan Air Asia Bisa Saja Terbawa Arus)

    Adapun kondisi terakhir pesawat Air Asia QZ8501 saat hilang dari radar berada di ketinggian 32 ribu kaki. Air Asia QZ8501 saat itu melesat dengan kecepatan sekitar 868 kilometer per jam di ketinggian 32 ribu kaki atau 9.753 meter. Perairan di bawah titik hilang kontak pesawat tersebut adalah sekitar Belitung, yang tidak sedalam perairan Sulawesi. (Baca: Ahok Doakan Air Asia: Semoga Tuhan Beri Kecerdasan)

    Reruntuhan Adam Air DHI574 juga menggambarkan kencangnya pesawat itu jatuh di laut. Saat itu reruntuhan pesawat yang ditemukan tersebar pada radius 480 kilometer persegi, dengan ukuran serpihan yang terbesar 2,5 x 1,5 x 0,55 meter. (Baca juga: Berburu Air Asia, Ada Sulap Tim Elite Basarnas)

    EVAN | PDAT (Sumber Diolah Tempo)



    Topik terhangat:

    AirAsia | Banjir | Natal dan Tahun Baru | ISIS | Susi Pudjiastuti

    Berita terpopuler lainnya:
    Jokowi: Papua Sangat, Sangat, Sangat Kaya, namun... 
    Akuisisi Bloomberg TV oleh Bosowa Rampung 2 Bulan
    Harga Pertamax Turun Bulan Depan


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Eliud Kipchoge Tak Pecahkan Rekor Dunia Marathon di Ineos 1:59

    Walau Eliud Kipchoge menjadi manusia pertama yang menempuh marathon kurang dari dua jam pada 12 Oktober 2019, ia tak pecahkan rekor dunia. Alasannya?