Tahanan Nazi Asal Indonesia: Bangkai Jadi Rebutan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang wanita berjalan melewati gerbang utama bekas kamp konsentrasi di Dachau, Jerman, tanpa pintu bertuliskan slogan Nazi

    Seorang wanita berjalan melewati gerbang utama bekas kamp konsentrasi di Dachau, Jerman, tanpa pintu bertuliskan slogan Nazi "Arbeit macht frei" yang dicuri, Senin 3 November 2014. REUTERS/Michael Dalder

    TEMPO.CO, Jakarta - Mendiang Parlindoengan Loebis dalam otobiografinya, Orang Indonesia di Kamp Konsentrasi Nazi, bercerita soal kengerian yang dia rasakan selama dalam masa penahanan. Saat itu, sekitar April 1945, para tawanan kamp konsentrasi menuju Kota Wittstock, Jerman, untuk menyerah kepada tentara Sekutu. Perjalanan ini memakan waktu sekitar sepuluh hari. (Baca: Sebelum ke Jawa, Kapal Nazi Libas 3 Kapal Sekutu)

    Parlindoengan menuturkan tawanan yang tak bisa berjalan akan ditembak mati. Sepanjang perjalanan itu, ia mengaku melihat enam sampai delapan kali adegan seorang tawanan ditembak, jumlahnya tentu saja lebih banyak. "Pada hari pertama ada 800 tawanan mati," katanya seperti dikutip Majalah Tempo edisi September 2006. Parlindungan meninggal pada 1994 dalam usia 84 tahun. (Baca: Benarkah Hitler Sesungguhnya Hidup di Sumbawa?)

    Bahkan, dalam wawancara itu dia menuturkan, saat di perjalanan ada adegan para tahanan berebut memakan bangkai kuda di pinggir jalan. Banyak tahanan yang memakan daging kuda itu mentah-mentah. "Sampai-sampai ada yang masuk ke perut kuda untuk mendapat dagingnya dan keluar dengan mulut, muka, dan kepala, yang penuh dilumuri darah," katanya seperti dikutip Majalah Tempo.

    Parlindoengan lahir pada 30 Juni 1910 di Batang Toru, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Ia datang dari keluarga berada, sehingga memungkinkannya bisa bersekolah hingga sarjana. Setamat MULO (setingkat sekolah menengah pertama) di Medan pada 1927, ia melanjutkan ke AMS (sekolah menengah atas) di Jakarta. (Baca: Ditemukan, Kapal Selam Nazi Menyusup ke Laut Jawa)

    Sudah sejak di Jakarta Parlindoengan aktif dalam dunia politik. Ia berhubungan dengan para pelajar nasionalis yang getol membangkitkan kesadaran politik kalangan muda. Pada 1932, saat menjadi mahasiswa kedokteran di Universitas Leiden, Belanda, ia bergabung dengan Perhimpoenan Indonesia.

    Ketua Perhimpoenan Indonesia Belanda periode 1936-1940 ini diciduk tentara Nazi pada akhir Juni 1941. Di era itu, Perhimpunan Indonesia di Belanda gencar melawan fasisme Jerman. (Baca: Misteri Dua Tengkorak di Bangkai Kapal Selam Nazi)

    TIM TEMPO | SYAILENDRA PERSADA

    Baca Berita Terpopuler
    Pemred Jakarta Post Jadi Tersangka Penistaan Agama
    Jay Subiakto Kecewa pada Jokowi, Untung Ada Susi
    Bertemu, SBY Nasihati Prabowo
    Jay Subiakto: Gubernur FPI Cukup Menghibur
    SBY: Demokrat Tak Pernah Masuk Koalisi Prabowo

     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Salip Menyalip Tim Sepak Bola Putra Indonesia Versus Vietnam

    Timnas U-23 Indonesia versus Vietnam berlangsung di laga final SEA Games 2019. Terakhir sepak bola putra meraih emas di SEA Games 1991 di Filipina.