Pasien Terduga Ebola di Kediri Dibolehkan Pulang  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang pasien suspect Virus Ebola dirawat di Ruang Isolasi RSUD Kabupaten Kediri, Jawa Timur, 1 November 2014. ANTARA/ Rudi Mulya

    Seorang pasien suspect Virus Ebola dirawat di Ruang Isolasi RSUD Kabupaten Kediri, Jawa Timur, 1 November 2014. ANTARA/ Rudi Mulya

    TEMPO.CO, Kediri - Rumah Sakit Umum Daerah Pare di Kabupaten Kediri telah memulangkan GN, pasien terduga ebola yang pernah bekerja di Liberia. RSUD Pare menyatakan GN hanya menderita radang tenggorokan akut. (Baca berita sebelumnya: Pasien Terduga Ebola di Kediri Diklaim Negatif)

    Juru bicara RSUD Pare, Hari Susanto, mengatakan GN dibolehkan pulang sejak Jumat, 7 November 2014. GN dinyatakan sembuh dan tak memerlukan perawatan khusus karena uji darah menunjukkan hasil negatif ebola. "Sudah Jumat lalu pasien kami pulangkan," kata Hari kepada Tempo, Kamis, 14 November 2014.

    Menurut dia, kondisi GN memang sudah membaik, sehingga dibolehkan pulang. Bahkan, sebelum pulang, dia sempat dipindahkan dari ruang isolasi ke ruang perawatan umum. Selanjutnya, wewenang pengawasan terhadap GN diserahkan kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri.

    Wakil Direktur RSUD Pare, dokter Sulistiyono, mengaku tidak mengetahui bahwa GN sudah dipulangkan. Yang ia ketahui hanya GN telah dipindah ke ruang perawatan umum karena kondisinya membaik. "Saya tak lagi mengikuti perkembangannya sejak dia dipindahkan," katanya. (Baca juga: Pasien di Madiun dan Kediri Negatif Ebola)

    Menurut dia, GN memang hanya menderita radang tenggorokan. Dugaan itu sudah muncul dua hari sejak GN dirawat. Namun karena GN baru saja pulang dari negara endemis ebola, perawatan terhadap dia menggunakan standar penderita ebola, yakni melalui proses karantina.

    Kepala Dinas Kesehatan Adi Laksono mengatakan GN sudah bisa berkumpul dengan keluarganya. Tak ada alasan lagi untuk menahannya di rumah sakit karena hasil uji darahnya negatif ebola. Dinas Kesehatan juga telah meminta GN melapor ke puskesmas terdekat setiap kali mengalami panas. "Jadi bukan pengawasan yang bagaimana," katanya.

    GN dilarikan ke RSUD Pare pada 31 Oktober 2014 setelah pulang dari Liberia. Ketika itu dia mengeluhkan nyeri tenggorokan dan panas. Karena namanya masuk dalam daftar tenaga kerja Indonesia yang harus mendapat pengawasan dari petugas kesehatan bandar udara, rumah sakit segera melakukan penanganan standar pasien ebola. (Lihat pula: Tangkal Ebola, Liberia Berlakukan Jam Malam)

    HARI TRI WASONO

    Berita Terpopuler:
    Menteri Susi Disemprot Nelayan
    Jusuf Kalla: Ahh FPI Selalu Begitu, Simbol Saja
    Jusuf Kalla: Kenaikan Harga BBM Akan Ditunda 
    Pembubaran FPI, Polri Siap Bersaksi di Pengadilan  


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lakon DPR, Jokowi, dan MK dalam Riwayat Akhir Kisah KPK

    Pada 4 Mei 2021, Mahkamah Konstitusi menolak uji formil UU KPK. Dewan Perwakilan Rakyat dan Presiden Jokowi juga punya andil dalam pelemahan komisi.